Percepatan Kesiapan Kerja Siswa Vokasi oleh Guru

Guru ibarat kertas yang penuh dengan tulisan dimana tulisan tersebut mengandung berjuta makna yang dapat diterjemahkan ke berbagai literasi. Sebagaimana Al-quran, kata “Yasin” dapat diterjemahkan sesuai dengan kemajuan alam. Pada dunia pendidikan, pendidikan vokasi dianggap sebagai pilihan pelarian karena tidak lulus pilihan pertama yakni SMA, atau karena memang merasa tidak akan lulus sehingga memilih SMK namun setelahmasuk SMK masih menjadi pilihan kedua setelah pendidikan akademik. Anak-anak pada era milenial dan masuk pada era generasi Z, masih banyak memilih jurusan-jurusan yang bermakna bekerja di kantor seperti memilih jurusan Akuntansi, Tata kelola perkantoran, sedangkan peminat Pemasaran, perhotelah, Perjalanan wisata sedikit peminat, bahkan cenderung dianaktirikan. Pada pendidikan vokasi sedikit atau banyak peminat bukanlah hal yang dipermasalahkan yang terpenting adalah outputnya akan kemana dan dapat apa, nah disinilah peran guru, kita mulai dari orang tua, pendidikan menjadi hal yang penting guna membangun bangsa. Namun orang tua masih berpikir senang jika anaknya bekerja di kantor pergi pagi pulang sore lalu makan gaji, tidak orang tua harus di rubah anaknya harus pergi tepat waktu pulang tepat waktu penghasilan setiap waktu itu adalah pendidikan vokasi. Keterampilan praktis yang diperoleh dari pendidikan vokasi dapat membuka banyak pintu kesempatan kerja bagi siswa lulusan smk vokasi untuk itu adalah peran guru, peserta didik masuk ke dalam penjurusan secara matang adalah pada semester tiga dan empat masuk ke DUDIKA untuk magang dan peserta didik mendapatkan pendidikan vokasi nya belum dari sekolahnya. Hal itu disebabkan oleh pada semester itu peserta didik masih di ajari materi teori muatan kewilayahan dan muatan nasional, sementara kelompok mata pelajaran kejuruan yang notabenya adalah penjurusan masih banyak mengandung materi teori sedangkan pembelajaran program keahlian masih merupakan dasar dasar program keahlian belum masuk pada praktek kejuruan. Itu ada di kurikulum yang di keluarkan pemerintah sebagai regulas. Tidak salah dengan kurikulum maka dari itu pendidikan merdeka mengajar pada kurikulum merdeka bagaimana sang guru harus mengelola peserta didikya agar menjadi output yang mampu berkompetisi dengan peluang-peluang kerja yang dibutuhkan dunia industri. Pertanyaannya adalah bagaimana guru dapat mempersiapkan siswa vokasi untuk sukses di dunia kerja? Jawabnya adalah guru harus mempersiapkan siswanya dan memahami tren industri dan kebutuhan perusahaan seiring dengan itu guru dengan tidak bisa pamrih apapun jika ingin membangun generasi Z yang terlena dengan gadget agar tetap menjadi generasi produktif maka yang harus dilaksanakan adalah Memberikan pelatihan dan bimbingan tanpa henti hingga peserta didik mampu mengenali kemampuanya masing-masing. Kaum pendidik harus kreatif dan mampu memanfaatkan teknologi gadget digital dan penggunaan intenet sebagai bahan dan media keterampilan yang didasari dengan etika, cara, ilmu, dan penjabaran dari aplikasi – aplikasi pendukungnya ini dikarenakan tidak ada seorangpun dalam suatu kelas. Peserta didik yang tidak mempunyai gedget maka dari itu adalah mutlak guru mau tidak mau untuk mengusai aplikasi gadget sebagai media pembantu bagi kegiatan pembelajaran vokasi. Guru harus merekam metari belajar, dalam bentuk vedio baik itu secara teori maupun praktek. Peserta didik lebih banyak kegiatan vokasi berpraktek berdasarkan kesempatan kemampuan peserta didik, dan hal ini harus dibantu orang tua siswa baik pendanaan maupun kesempatan. Pada peserta didik yang tercandu gadget guru harus mengalihkan peserta didik bahwa melalui gadget anak juga bisa bersaing, maka penting bagi guru untuk membimbing siswa dalam mengembangkan keterampilan secara soft skills Memberikan pelatihan dan bimbingan, disini kembali peran besar guru harus memahami dari masing-masing soft skill dari peserta didik yang di mulai dari pendekatan terhadap orang tua siswa yang tentunya tidak harus face to face. Namun dapat dilakukan secara acak ataupun dengan cara pertemuan umum atau juga dengan cara by phone. Beberapa orang tua biasanya sangat antusias ketika memang program ini terlaksana hanya saja keinginana orangtua tersebut harus di dukung dengan bantuan pembiayaan secara mandiri guna ini karena diperlukan pembiayaan sedikit esktra. Setelah guru mengidentifikasi soft skill dari masing masing peserta didik dan kemudian dikelompokan dalam ketegori sejenis maka guru dapat mengintegrasikan keterampilan dan pengetahuan yang relevan dengan industri ke dalam kurikulum mereka dan pembelajaran dapat berlangsung namun harus mulai lebih banyak mengurangi pembelajaran teori, agar terjadinya fokus pada suatu soft skill yang terdapat pada masing-masing peserta didik melalui P5 peserta didik di bawa ke dunia nyata, dunia kerja setelah mempetakan dari masing – masing bakat dan minat dari peserta didik, dasar pemikiran yang dilaksanakan adalah merdeka mengajar dan merdeka belajar. Oleh karena itu bagi sekolah menengah kejuruan peserta didik masuk kedalam dunia kerja melalui pemagangan, siswa dikelompokan bukan saja berdasarkan jurusan tetapi dimulailah masuk ke soft skill dari masing-masing peserta didik tersebut, ini agar tercipta rasa tanggungjawab dan kecintaan terhadappembelajaran tersebut, sehingga ketergantungan dengan gedget dapat dialihkan namun untuksebagian tetap mereka tidak jauh dengan gadget tersebut sebagai toturial. Peserta didik sangatlah penting di perkenalkan dengan materi praktisi dunia kerja dan dunia industri oleh karena itu guru dapat mengundang profesional industri untuk memberikan wawasan kepada siswa, melalui pertemuan itu siswa di perkenalkan dengan materi kerja sebenarnya berdasarkan pengalaman dan kebutuhan industri sehingga peserta didik benar-benar mampu mempersiapkan dirinya secara teori maupun praktek yang tidak saja harus di dapat dari bangku sekolah bersama gurunya namun dapat juga dengan cara mandiri dalam bentuk belajar tambahan guna meningkatkan soft skill yang telah dimilikisiswa bersangkutan. Dan tentunya Guru tamu harus juga lintas disiplin ilmu yang berbeda hal ini dikarenakan banyak alumni yang pada akhirnya berkarir dan karirnya dapat menanjak terkadang sangat tidak relevan dengan dasar ilmu pengetahuan yang didapat dari bangku sekolah. Dengan demikian peserta didik akan terbiasa bekerja secara tim dan kemampuan berkomunikasi, serta pembelajaran kepemimpinan yang memang sudah sangat diperlukan oleh perusahaan-perusahaan. Dengan adanya Pendidikan vokasi sangat penting dalam mengatasi kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. siswa akan lebih siap untuk langsung terjun ke dunia kerja setelah lulus, karena mereka telah dilatih dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri. Pada peserta didik di era revolusi industri 4.0 mengacu pada sociaty 5.0 peran digital melalui gedget adalah suatu keharusan untuk mampu bersaing, oleh karena itu adalah pendidikan melalui disiplin ilmu bisnis digital dengan soft skill E-Commers adalah peluang emas bagi generasi Z, guna mendulang kesuksesan, tingkatkan literasi pemahaman internet dan aplikasi-aplikasinya dan mempelajari ilmu bisnis digital, brending, onboarding dan operatting guna menguatan pengetahuan E-Commers maka sudah mengarah pada kemapuan society 5.0.

Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Merdeka Belajar Berbasis Teknologi

SMA Negeri 2 Playen bersama dengan lima SMA lain di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ditetapkan sebagai Sekolah Penggerak Angkatan I pada Tahun Pelajaran 2021/2022. Sekolah Penggerak adalah sekolah yang membawa amanah pembelajaran paradigma baru dengan mengusung Kurikulum Merdeka. Sekolah Penggerak menitikberatkan pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi dan karakter. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan Indonesia yaitu mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global. Merupakan suatu tantangan untuk melahirkan insan pembelajar yang cerdas dan berkarakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Selain itu, para siswa juga dihadapkan pada tantangan menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.Revolusi Industri 4.0 merupakan era di mana segala hal pada peningkatan efisiensi produksi dengan mengintegrasikan teknologi robotika, kecerdasan buatan, dan analitik data untuk meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas dalam proses produksi. Sedangkan Society 5.0, adalah era industri yang didukung oleh teknologi digital dan manusia. Society 5.0 menekankan pada peran manusia dalam mengembangkan teknologi dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Untuk menjawab tantangan Revolusi industri 4.0 dan Society 5.0, perlu persiapan terutama dari dunia pendidikan. Siswa perlu dibekali dengan kecakapan hidup abad 21 atau biasa dikenal dengan istilah 4C (Creativity, Critical Thingking, Communication, Collaboration) agar memiliki kemampuan problem solving. Di samping kemampuan 4C, diperlukan pula keterampilan dalam berliterasi. Siswa diharapkan memiliki kemampuan 6 Literasi Dasar, yaitu literasi numerasi, literasi sains, literasi informasi, literasi finansial, literasibudaya dan kewarganegaraan. Tak kalah penting dari 4C dan 6 Literasi Dasar, siswa hendaknya memiliki karakter yang mencerminkan Profil Pelajar Pancasila seperti yang terkandung di dalam Kurikulum Merdeka. Profil Pelajar Pancasila ditanamkan kapada siswa melalui kegiatan intrakurikuler, ko kurikuler,dan ekstrakurikuler. Salah satu strategi untuk mencapai visi pendidikan Indonesia dan menghadapi segalatantangan tersebut adalah dengan penerapan Merdeka Belajar. Merdeka Belajar diharapkan mampu menciptakan pendidikan berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pendidikan berkualitas identik dengan pendidikan digital. Transformasi pendidikan digital ini dipercepat dengan adanya Pandemi Covid-19. Adanya Pandemi Covid-19 memiliki dampak positif yaitu mengubah proses belajar mengajar secara drastis, belajar tidak hanya terbatas di kampus. Belajar dapat dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi digital, dan hal itu menjadi sesuatu yang lumrah. Teknologi digital digunakan untuk menyediakan platform pembelajaran secara daring, bahan ajar digital, dan alat bantu pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran tidak terbatas, tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di luar sekolah, seperti melalui kursus secara daring, pelatihan-pelatihan, atau pengalaman kerja. Beruntunglah pada masa sekarang tersedia berbagai macam aplikasi yang dapat membantu siswa dalam belajar. Beberapa contoh teknologi yang sering diterapkan kepada siswa SMA Negeri 2 Playen terkait pembelajaran digital antara lain : Masih banyak lagi pembelajaran yang menggunakan teknologi digital. Guru memberikan berbagai alternatif media belajar, agar siswa merasakan pembelajaran bermakna, sekaligus membiasakan sdan memahamkan siswa bahwa teknologi digital itu bisa digunakan untuk belajar, bukan hanya semata-mata sarana rekreasi dan menjalin relasi. Pemanfaatan teknologi digital tidak hanya digunakan dalam pembelajaran intrakurikuler. Pembelajaran kokurikuler yang berwujud Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila juga sarat akan penggunaan teknologi digital. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ini adalah salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka. Sebagai contoh, misal Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila untuk tema Bangunlah Jiwa dan Raganya, siswa diminta membuat Karya Tulis Ilmiah secara berkelompok. Di sini siswa belajar secara kritis menganalisis permasalahan yang ada di lingkungan terdekat mereka, kemudian berusaha menyampaikan gagasan solusi secara kreatif. Kemudian mereka menuliskannya menjadisebuah karya tulis ilmiah. Dalam proses penilisan karya tulis ini, mereka belajar mengetik dengan komputer atau laptop sesuai dengan format yang ditentukan. Mereka juga belajar survei dengan cara wawancara langsung maupun melalui Google Form. Dimensi yang dikembangkan pada tema Bangunlah Jiwa dan Raganya ini adalah bernalar kritis, kreatif dan gotong royong. Untuk tema Kearifan Lokal, mereka berusaha mengangkat kearifan lokal yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka, kemudian mempromosikannya dalam bentuk web atau blog. Dimensi yang dikembangkan adalah bernalar kritis, kreatif, mandiri, dan gotong royong. Untuk tema Gaya Hidup Berkelanjutan, dengan nalarnya mereka mengkritisi fenomena pencemaran udara yang ada di sekitar mereka, menganalisis sebab dan dampaknya, kemudian berusaha secara kreatif mencari solusinya. Produk kampanye yang mereka hasilkan untuk menyosialisasikan solusi gagasan mereka terhadap pencemaran udara adalah video kreatif. Selain dimensi bernalar kritis dan kreatif, dengan tema Gaya Hidup Berkelanjutan ini, diharapkan siswa belajar mengembangkan dimensi beriman bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia. Tema projek selanjutnya adalah kewirausahaan. Siswa menciptakan produk inovatif yang dapat mereka jual, kemudian mengemasnya, kemudian menjualnya. Tak lupa mereka harus membuat business plan. Dilanjutkan tema Bhineka Tunggal Ika, yang tentu saja membidik dimensi berkebhinekaan global, siswa diminta merancang sekaligus mementaskan secara klasikal berbagai budaya nusantara di panggung pertunjukan. Secara undian masing-masing kelas mendapatkan provinsi tertentu dari semua provinsi yang ada di Indonesia. Tema projek berikutnya adalah Suara Demokrasi. Seiring perkembangan usia mereka, sebagian siswa memasuki fase usia pemilih pemula dalam berdemokrasi. Dengan tema ini mereka belajar hal-hal terkait demokrasi yang bersih dan tanpa kecurangan. Tema terakhir yang mereka dapatkan adalah Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun NKRI. Pada tema ini siswa diminta menciptakan produk teknologi tepat guna untuk mengatasi masalah-masalahdalam kehidupan. Pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ini diakhiri dengan Perayaan Hasil Belajar. Perayaan Hasil Belajar menampilkan hasil projek siswa yang telah dibuat. Siswa diberikan kebebasan berkreasi untuk menghias kelas supaya lebih menarik untuk dikunjungi. Pengunjung adalah orangtua atau wali siswa. Dengan demikian, orangtua atau wali dapat melihat hasil projek putra-putrinya. Dan untuk menjawab tuntutan zaman, SMA Negeri 2 Playen melengkapi standar kelulusan siswa kelas XII pada tahun pelajar 2023 / 2024 dengan mensyaratkan penyusunan KTI (Karya Tulis Ilmiah) secara individu sebagai kegiatan puncak belajar siswa dalam mengasah kemampuan berpikir kritis, analitis sekaligus mandiri dan bertanggungjawab dalam mendapatkan sekaligus mengolah data. Sekolah melakukan upaya penguatan kemampuan membaca teks informasi secara penuh. Sekolah masih melihat kelemahan siswa yang masih memiliki minat membaca yang rendah, berliterasi yang sempit dan kecenderungan tidak tertarik isu yang berkembang di masyarakat maupun jamannya. Pilihan tema yang disajikan disesuaikan dengan issue Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs (SustainableDevelopment Goals) yang dicanangkan PBB, yaitu : No Poverty, No Hunger,

Tersedia

© 2025 All Right Reserved
PT. Lini Suara Nusantara