Perkembangan teknologi informasi saat ini mengalami kemajuan yang luar biasa, hampir di setiap sektor teknologi ini selalu hadir tentu keadaan ini berbeda jauh jika kita hidup di tahun 2000-an ke bawah.
Hari ini, kecanggihan teknologi informasi dapat dinikmati oleh hampir semua kalangan, Mulai anak-anak sampai orang dewasa. Pelajar hingga pengajar, Rakyat hingga pejabat, Bahkan masyarakat di desa hingga kota. Tak ayal, orang menyebut zaman ini dengan Era Digital. Pertanyaannya adalah, apakah dengan semakin majunya teknologi informasi siswa semakin siap menghadapi pembelajaran di Era Digital?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita lihat dulu laporan Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024 yang diterbitkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Jumlah pengguna internet di Indonesia pada Januari 2024 mencapai 221,6 juta jiwa. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 1,31% dibandingkan tahun 2023. Artinya, 79,5% dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 278,7 juta jiwa kini sudah terhubung ke internet. Dalam enam tahun terakhir, jumlah pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu sebesar 14,70%. Dari data tersebut, kita mengetahui bahwa internet bukan barang baru dan sudah akrab di telinga masyarakat. Kondisi ini menandakan bahwa dari sisi sarana, yaitu teknologi informasi, siap untuk mendukung pembelajaran di Indonesia.
Selanjutnya, dilihat dari pembagian umur, Generasi Z yang lahir antara tahun 1997 sampai 2012 tercatat sebagai pengguna internet terbanyak di Indonesia, yaitu sebesar 34,40 persen. Disusul oleh Generasi Milenial, kelahiran tahun 1981 hingga 1996, dengan pengguna internet sebesar 30,62 persen. Dari data ini, menunjukkan bahwa pengguna internet mayoritas adalah usia pelajar dan produktif. Artinya, mereka siap dengan pola pembelajaran baru berbasis teknologi informasi. Ditambah pengalaman keberhasilan pendidikan Indonesia dalam melewati masa Covid-19.
Setidaknya faktor tersebut menjadi modal tersendiri bagi pendidikan di Indonesia. Yaitu, tersedianya sarana yang mendukung, ditambah pengalaman pahit yang berhasil dilalui. Lalu, apakah faktor tersebut menjamin siswa lebih siap dalam menghadapi pembelajaran? Tunggu dulu! Ada kalanya hitungan di atas kertas berbanding terbalik dengan realita. Mari kita anilisis bersama.
Data yang dimuat di situs databoks.katadata.co.id menunjukkan lebih dari separuh remaja usia 13-15 tahun aktif di Instagram setiap hari. Platform ini menjadi yang paling populer dengan pengguna harian mencapai 58%, mengungguli Facebook (53%), Whatsapp (46%),TikTok (45%), dan Facebook Messenger (37%). Selain remaja kita menggunakan platform perpesanan, ternyata mereka mengakui bermain gim setiap hari bahkan menjadi aktivitas populer dengan angka yang cukup besar, yaitu 56%. Dari sini kita patut menduga bahwa anak bermain platform perpesanan dan gim cenderung lebih menarik daripada membuka platform pembelajaran.
Dari 24 jam sehari, bisa dihitung dengan jari berapa lama bermain gim, Instagram-an, Facebook-an, WA-an, dan Tik-Tok-an. Berapa lama belajar, bahkan berapa lama waktu istirahat dan makan yang tersita. Seringnya siswa berinteraksi dengan internet tidak menjamin apa yang diakses adalah platform yang “bergizi.” Bisa jadi justeru yang diakses adalah “racun” bagi masa depan mereka. Misalnya saja judi online yang marak dan mudah diakses sehingga sangat mungkin menodai para remaja kita.
Dari data yang dirilis oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), terhitung 157 juta transaksi judi online terjadi di Indonesia selama periode 2017 hingga 2022. Transaksi-transaksi ini menghasilkan perputaran uang yang fantastis, mencapai Rp190 triliun. Setelah melihat data-data di atas, saya memandang bahwa para siswa di Indonesia, di usia yang masih muda sekalipun, mampu mengoperasikan alat komunikasi dengan lihai. Betapa tidak, smartphone/gawai selalu berada di samping mereka. Bangun tidur main gawai. Di sekolah main gawai. Saatnya berkumpul juga lebih asyik memainkan gawai. Sehingga saya yakin mereka lebih melek teknologi dan sangat mudah diarahkan jika pembelajaran berbasis teknologi informasi.
Jika dalam pembelajaran ada hal baru yang belum mereka kuasai, sayapun yakin mereka akan menemukan solusinya dengan cepat. Mereka dapat memanfaatkan mesin pencari atau Artificial Intelligence (AI) yang lebih canggih. Bahkan siswa kita ada yang mampu membuat coding pemrograman dan membuat aplikasi yang bagus. Kekuatan inilah yang dapat mendorong pendidikan Indonesia lebih maju.
Para pelajar kita akan mampu bersaing dengan negara lain jika terus diasah. Pengetahuan mereka tentang software dan hardware harus terus ditingkatkan. Termasuk softskill dan kepribadian mereka juga ditempa agar mampu bersaing di tingkat global. Selanjutnya, saya berharap stakeholder pendidikan jangan merasa puas dengan kemampuan para siswa dalam memanfaatkan teknologi informasi.
Karena tujuan besarnya adalah bukan mereka pandai dalam mengoperasikan teknologi. Akan tetapi, mereka harus mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk kemaslahatan bersama. Tidak disalahgunakan,merugikan, merusak, apalagi mencelakakan orang lain. Di balik kekuatan yang ada, tentu ada kelemahan yang harus diwaspadai agar pembelajaran siswa di era digital benar-benar siap. Pertama, kecenderungan siswa berlebihan dalam berinteraksi dengan gawai. Kebanyakan dari mereka lupa waktu untuk belajar, lalai dalam mengerjakan tugas, dan lebih asyik bermain gim atau media sosial. Dari 24 jam sehari, sepertinya siswa lebih banyak membuka dan memainkan aplikasi non-pembelajaran.
Kedua, dengan adanya kemudahan akses internet terbuka lebar juga potensi untuk mengakses situs-situs negatif seperti judi online, pornografi, dan lain-lain. Sehingga orang tua,guru, dan pemerintah harus memastikan mereka tidak mengakses situs-situs yang dapat merusak masa depan mereka. Ketiga, lemahnya pengawasan terhadap para siswa dalam memanfaatkan teknologi informasi. Masih banyak siswa yang tidak tabayyun dalam menerima informasi, juga tidak bijak dalam meneruskan informasi. Yang akhirnya terkungkung dalam lingkaran hoaks.
Kelemahan ini semakin rumit seiring dengan gempuran aplikasi yang memanjakan penggunanya. Aplikasi baru yang lebih user friendly, asyik, gratis, tampilannya menarik, dan lain-lain. Sementara aplikasi yang “bergizi” tampilannya biasa-biasa saja. Tentu hal ini,semakin ditinggalkan para siswa. Dengan demikian, kesiapan siswa dalam menghadapi pembelajaran di era digital akan ditentukan seberapa jauh mereka menguasi sarana teknologi informasi yang ada. Setidaknya saat ini jaringan internet relatif tersedia di mana-mana. Alat pengakses internet berupa smartphone atau laptop juga sudah banyak digunakan. Artinya, dari sisi sarana siswa siap untuk melakukan pembelajaran.
Yang menjadi kendala adalah seberapa jauh kemampuan mereka dalam mengendalikan dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri sebagai siswa. Apakah konsisten dalam membagi waktu untuk belajar, atau justeru tergoda dengan asyiknya gim, media sosial, bahkan judi online? Jadi, siap atau tidaknya siswa dalam menghadapi pembelajaran di era digital dapat dilihat dari uraian di atas. Anda yakin? Wallau’alam.
Daftar Pustaka
Javier, Faisal. 2024. Berapa Banyak Pengguna Internet di Indonesia? Diakses pada 29 April 2024 dari https://data.tempo.co/data/1843/berapa-banyak-pengguna-internet-di indonesia#:~:text=Berdasarkan%20rilis%20Survei%20Penetrasi%20Internet,2023%20hingga%2019%20Januari%202024.
KBBI, 2023. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Diakses 29 April 2024 dari: https://kbbi.kemdikbud.go.id/.
Lidwina, Andea. 2021. Instagram, Media Sosial Paling Sering Digunakan Anak. Diakses pada 29 April 2024 dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/07/14/instagram-media-sosial-paling-sering-digunakan-anak.
Penulis: Deden Zaenal Mutakin
Asal Instansi: SMKN 4 Sukabumi
Editor: Chania M. Widyasari