Kebutuhan hidup di Indonesia mengalami perkembangan yang selaras dengan perkembangan teknologi. Teknologi yang berkembang mempengaruhi sistem pembelajaran di sekolah seperti penggunaan internet sebagai sumber belajar bagi guru dan siswa. Guru dan siswa dituntut berkembang dengan adanya pengembangan teknologi AI (Artificial Intelligence) dimana beberapa pendapat menyatakan AI mempermudah dalam menganalisis masalah pembelajaran. Sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan harus memiliki kemampuan di bidang teknologi yang dipelajari selama di sekolah dalam menjalani era
digital ini.


Era digital menimbulkan perkembangan teknologi yang harus berdampingan dengan sistem pendidikan Indonesia sejak internet membudaya. Penggunaan teknologi sangat berpengaruh dengan perkembangan kemampuan siswa dalam pembelajaran terutama pembelajaran Informatika yang pernah dihapus dari pembelajaran di sekolah. Pembelajaran Informatika atau TIK mulai dikembangkan kembali karena kurangnya pengetahuan siswa mengenai penggunaan teknologi seperti komputer dan laptop. Meskipun teknologi AI dapat diakses menggunakan handphone tetapi, beberapa sekolah tidak memperbolehkan
penggunaan hp selama KBM berlangsung dengan alasan penyalahgunaan oleh siswa. Adanya fasilitas sekolah seperti komputer dan laptop dapat membantu menambah referensi siswa apabila penggunaan hp dilarang selama KBM. Meskipun terdapat fasilitas sekolah tersebut kebanyakan siswa yang tidak menguasai teknologi mengalami tekanan karena malu dengan siswa lain padahal mereka bisa menggunakan hp dengan mudah.


Siswa zaman sekarang kurang bisa memanfaatkan internet untuk menunjang pengetahuannya, fakta di lapangan siswa cenderung membuka sosial media daripada menambah pengetahuan mereka. Kebanyakan siswa meremehkan tugas yang diberikan oleh guru karena dunia internet menyediakan semua jawaban dalam menyelesaikan tugas. Padahal kita tahu bahwa semua jawaban di internet bersumber dari pemikiran banyak orang yang mudah diedit atau diperbaiki sehingga kebenarannya masih dipertanyakan. Ketika siswa hanya menyalin jawaban dari internet tanpa memahami maksud jawabannya mereka tidak akan mendapatkan pemahaman tentang materi tersebut. Apabila AI digunakan dalam pembelajaran bisa menambah atau memecahkan masalah ya?

Pembelajaran di sekolah diperankan oleh guru dan siswa yang dimana ada timbal balik atau interaksi selama KBM berlangsung. Kemudahan teknologi yang sudah berkembang bisa mengurangi interaksi tersebut padahal manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia lain serta perlunya komunikasi agar tidak terjadi miskonsepsi. Miskonsepsi bisa terjadi apabila tidak ada guru yang meluruskan pemahaman siswa dari berbagai referensi yang mereka baca.

Jika AI diterapkan dalam pembelajaran kemungkinan besar komunikasi dua arah tidak terbentuk dan moral siswa berkurang. Mengapa moral siswa berkurang? Hal ini disebabkan siswa lebih percaya dengan jawaban sistem daripada penjelasan oleh guru sehingga mereka kemungkinan terbesar memandang remeh kemampuan guru. Pernah mendengar istilah adab di atas ilmu yang artinya seberapapun pintarnya
seseorang jika tidak memiliki adab kepada manusia lain maka, ilmunya tidak akan berkah (sia-sia dalam agama). Kita di Indonesia meyakini agama yang beragam tetapi menjunjung tinggi yang namanya adab terutama kepada orang yang lebih tua.


Sistem AI memudahkan siswa dalam menganalisis masalah yang diberikan oleh guru, sehingga siswa malas dalam berpikir kritis. Padahal kurikulum merdeka memberikan kebebasan siswa dan guru dalam mempelajari materi serta meningkatkan pola pikir siswa agar lebih kritis dengan masalah yang terjadi di lingkungan sekitar. Keterkaitan kegiatan sehari-hari dan di lingkungan sekitar bisa dijadikan analogi pembelajaran bagi siswa yang bisa menimbulkan keingintahuan siswa tentang proses atau penyebabnya.

Keingintahuan siswa bisa jadi dugaan awal atau hipotesis sebelum memulai pembelajaran. Kegiatan yang
lebih membekas dalam ingatan siswa dalam pembelajaran adalah praktek. Praktek merupakan kegiatan yang membuktikan hipotesis atau dugaan awal dengan teori yang ada sehingga bukan hanya audio (penjelasan guru) difungsikan, visual dan motorik mereka juga bekerja. Apabila AI digunakan hanya audio dan visual tanpa motorik menyebabkan daya tangkap dan daya ingat siswa tidak sekuat dengan adanya praktek. Peran guru selama kegiatan praktek sangatlah penting agar siswa terarah dengan metode yang dilakukan serta hasil yang diinginkan sesuai dengan teori yang dipelajari, adapun tidak kesesuaian dengan teori bisa dijadikan refleksi siswa pada materi tersebut.


Era digital juga menuntut guru untuk berkembang dengan menguasai aplikasi untuk menunjang pembelajaran dan bersikap kreatif dalam penyampaian materi. Faktanya, hampir 70% guru mengalami pergantian kurikulum dan zaman sehingga kemampuan dalam penguasaan teknologi beragam. Metode pengajaran guru-guru terdahulu menyebabkan siswa di Indonesia belum terbiasa dengan literasi karena menggunakan metode ceramah. Bisa dibayangkan proses merubah kebiasaan siswa tersebut hingga bisa berpikir kritis membutuhkan jangka waktu yang lama apalagi jika harus mempelajari teknologi yang baru.


Kemungkinan terbesar peran guru tidak diperlukan lagi jika AI diterapkan dalam pembelajaran karena sistem tersebut diatur bisa menjadi sumber belajar tanpa batas waktu. Hasil SDM dengan pembelajaran yang instan akan menambah jumlah pengangguran di Indonesia karena mereka tidak mau berusaha lebih atau sudah terbiasa mendapat jawaban instan dari AI. Berdasarkan opini saya di atas, kebijakan guru dan siswa dalam penggunaan AI dalam era digital ini sangat penting adapun batasan penggunaan teknologi yang bisa digunakan agar siswa tetap memiliki moral kepada guru maupun orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Sakiinah, Almira Nur, dkk. 2022. Revolusi Pendidikan di Era Society 5.0; Pembelajaran,
Tantangan, Peluang, Akses, dan Keterampilan Teknologi. Jurnal Pendidikan
Transformatif (Jupetra), 02.
Olii, Adam Al Aziz, dkk. 2023. Menjaga Kualitas Pendidikan di Era Society 5.0: Tantangan
dan Peluang dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0. Research Gate, Telkom
University.
Teknowijoyo, Felixtian, dkk. 2021. Relevansi Industri 4.0 dan Society 5.0 Terhadap
Pendidikan di Indonesia. Jurnal Ilmu Kependidikan, 2, 173-184.

Penulis: Nida Fitri Isnaini, S.Pd

Asal Instansi: MAS Syekh Subakir Nglegok

Editor: Chania M. Widyasari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tersedia

© 2025 All Right Reserved
PT. Lini Suara Nusantara