Rujukan Keilmuan di Indonesia

Opini Guru: Malu Hilang Peradaban Melayang!

“Dulu zaman saya SMA ga ada yang berani gitu ke guru”, “zaman dulu sekolah boro-boro pake kalkulator, ngitungnya ditalar aja”. Itu contoh ungkapan-ungkapan generasi tua saat ini mengomentari fenomena-fenomena anak sekolah zaman now. Memang faktanya, keadaan zamannya pun tidak sama. Jadi kalau kita hendak membanding-bandingkan keadaan saat ini dengan zaman dulu, ya pasti akan banyak yang berubah. Keadaan murid-murid saat ini berbeda dengan keadaan murid-murid di era-era sebelumnya, baik pada aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap/karakternya sehingga kurikulum sekolahpun terus
mengalami perubahan dan perbaikan untuk disesuaikan dengan keadaan zaman.


Masa pasti berganti, era pasti berbeda, dan zaman pasti berubah. Itu semua adalah suatu keniscayaan. Semua orang sudah mengetahui akan hal itu Tapi kenapa… ada saja hal yang mengherankan bahkan membingungkan manakala keadaan manusia dari generasi ke generasi mengalami perubahan. Begitu pula fenomena murid-murid saat ini. Yang dipersoalkan itu sebetulnya apa? perubahan pada tingkat kecerdasannya atau perubahan pada skillnya atau perubahan pada karakternya? Yang sering jadi sorotan dan dijadikan biang kerok dari kasus-kasus kenakalan bahkan kriminalitas yang dilakukan murid sekolah itu adalah perubahan pada karakternya.

Masyarakat awam tidak terlalu ambil pusing dengan hasil survei tentang kualitas murid-
murid di Indonesia pada aspek pengetahuan dan keterampilannya. Tetapi maraknya kasus tawuran dan perundungan yang dilakukan oleh murid sekolah membuat banyak pihak angkat bicara meskipun sekedar komentar di media sosial.

Perubahan karakter murid saat ini erat kaitannya dengan era disrupsi teknologi digital. Dimana masa saat ini terjadi inovasi dan perubahan yang terjadi secara masif karena hadirnya teknologi digital. Masifnya inovasi dari pola lama ke pola baru itulah yang bisa mengubah berbagai sistem, termasuk merubah karaktek manusianya itu sendiri. Tak terkecuali anak sekolah. Contohnya saat ini murid bisa dengan mudah dan cepat mengerjakan tugas sekolah apapun dengan hanya menggunakan AI (Artificial Intelligence) karena teknologi ini mampu meniru kecerdasan manusia. Naif kalau kita mengatakan bahwa AI tidak merubah karakter murid.


Teknologi yang bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia dengan target efisien dan efektif ternyata membawa dampak negatif dalam jangka panjang. Nah salah satu dampak jangka panjangnya adalah berubahnya karakter manusia sehingga mengurangi bahkan menghilangkan martabatnya sebagai manusia yang beradab. Kondisi inilah yang menjadi tantangan besar di semua bidang termasuk pendidikan. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2020 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik
komposisi penduduk Indonesia didominasi oleh Generasi Z yaitu generasi yang lahir antara tahun 1997-2012 yaitu sebanyak 27,94%. Saat ini sebagian besar Gen Z berada pada usia sekolah. Ini berarti para guru akan dihadapkan pada karakter Gen Z yang terdampak era disrupsi teknologi digital.

Guru dan murid tentu harus adaptif terhadap perkembangan teknologi agar murid tidak menjadi generasi yang terbelakang dan terasing di zamannya. Di zaman digital ini, hampir semua perangkat terhubung internet, maka media dan metode pembelajaran harus di-engineer sedemikian rupa agar sinkron dengan keadaan saat ini. Guru dituntut terus mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal.


Lantas apa yang harus terus dipertahankan dan menjadi prinsip sehingga tidak mengganggu martabat manusia yang beradab? Ya…adab. Adablah yang harus terus ada dan dipertahankan pada manusia. Perubahan karakter pada murid-murid saat ini erat kaitannya dengan berkurang atau hilangnya adab pada diri mereka. Mari kita cermati ungkapan dalam Bahasa Jawa berikut “Mnterno wong bener, iku luwe gempang, tinimbang mbenerno wong pinter”, yang artinya mendidik supaya pintar untuk orang yang sudah benar itu lebih mudah dibandingkan mendidik supaya benar untuk orang yang sudah pintar. Coba kita renungkan lagi, target pendidikan itu mencetak murid menjadi orang yang benar atau menjadi orang yang pintar. Orang yang benar (beradab) berpotensi rendah hati, tetapi orang yang pintar (berilmu) berpotensi tinggi hati. Jika pintarnya ilmu didasari benarnya adab maka terpelihara dari godaan penyalahgunaan ilmu itu sendiri.


Mari kita renungkan QS. Al A’rof ayat 26, bahwasanya Allah telah menurunkan dari langit pakaian untuk menutupi sesuatu yang tampak buruk pada manusia dan sebagai perhiasan yang melekat. Pakaian yang diturunkan dari langit untuk manusia itu berwujud rasa malu. Jadi rasa malu adalah sifat bawaan semenjak lahir. Punya rasa malu merupakan sikap adab paling mendasar untuk menjadi orang yang benar. Perubahan pada adab paling mendasar inilah yang nyata terlihat dan terasa pada era
teknologi digital saat ini. Media sosial menjadi salah satu faktor penyebab perubahan adab
tersebut. Lewat konten-konten yang dibagikan melalui media sosial, karakter orang menjadi
berubah salah satunya adalah berkurangnya rasa malu bahkan tidak tahu malu.


Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi Bab tentang “Malu dan Kemuliaannya Serta Anjuran Untuk Selalu Melaksanakannya” disebutkan beberapa keterangan diantaranya : “Dari Imran bin Hushain ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sifat malu itu akan mendatangkan kebaikan”. (HR. Bukhari dan Muslim). Karena sifat malunya manusia akan cenderung melakukan kebaikan. Oleh karena itu, rasa malu dapat menjadi pengendali manusia dari perbuatan buruk dan tercela. Bahkan rasa malu bisa refleks
ada pada orang yang senantiasa memeliharanya manakala ada kecenderungan untuk berbuat
tidak baik.

Rasa malu para murid yang tergerus oleh media informasi digital ini menjadi masalah yang harus mendapat perhatian serius dari para guru. Penguatan pendidikan rasa malu merupakan sebuah proses dalam perubahan, pembentukan serta pengembangan potensi yang ada dalam diri individu dengan tujuan melindungi mereka dari melakukan suatu hal yang kurang baik. (Ira Solihah;Ikin Asikin, 2021).
Menurut Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulumiddin, jilid 1, di antara tugas pembimbing yang menjadi guru diantara 8 (delapan) tugasnya adalah mencegah murid dari akhlak yang buruk. Sementara tugas pertama dari murid adalah mendahulukan kesucian jiwa dari akhlak yang hina dan sifat-sifat yang tercela.


Lantas apa yang harus segera dilakukan? Sebaik-baik nasihat adalah dengan mencontohkannya. Akan sangat efektif jika guru memberi contoh dengan perbuatan daripada hanya memberikan nasihat secara lisan. Aksi nyata guru dalam memberikan contoh baik akan menjadi teladan buat murid-murid sekaligus menumbuhkan rasa malu jika mereka melakukan keburukan dan perbuatan tercela. Ketika seorang murid mau melakukan perbuatan buruk setidaknya mereka berpikir dulu “ guru saya tidak pernah mencontohkan ini” atau “saya akan malu jika guruku sampai tahu saya melakukan perbuatan buruk ini.”
Contoh sederhana yang bisa dilakukan guru adalah memberi salam terlebih dahulu kepada murid apabila berpapasan. Guru selalu tersenyum dan menyapa murid dengan memanggil namanya dan menanyakan kabarnya. Datang ke kelas sebelum bel mulai pelajaran karena ingin menyambut kehadiran murid-muridnya.

Berbicara dengan murid dengan bahasa yang lemah lembut. Menyampaikan terima kasih atas perhatian, keaktifan dan kerjasama murid saat pembelajaran. Tidak gengsi untuk meminta maaf jika terlambat masuk kelas atau jika ada kekurangan dan kesalahan saat pembelajaran berlangsung. Guru juga bisa
memberikan contoh lewat penampilannya. Guru berpakaian sederhana tetapi bersih dan rapih
dan selalu menjaga penampilannya sehingga murid akan malu jika dia berpakaian yang
berlebihan atau berpenampilan tidak sopan.

Perlu diperhatikan juga, sebagai rambu-rambu, jangan pernah merendahkan martabat murid dengan kata-kata kasar hanya karena statusnya sebagai murid. Hindari ungkapan-ungkapan yang dapat menyakiti hati dan melukai perasaan murid. Tidak menegur atau memarahi murid di depan umum. Hati-hati jangan sampai ada perkataan atau perbuatan yang melecehkan murid apalagi sampai melakukan perundungan.

Murid yang mendapat perlakuan baik dari guru-gurunya akan memperhalus adabnya dan akan malu untuk berbuat tidak baik. Sebaliknya jika murid diperlakukan tidak baik atau memiliki trauma, maka dia tidak segan-segan untuk melakukan tindakan buruk tanpa rasa malu lagi. Pendidikan akan menjaga martabat manusia yang beradab. Zaman apapun yang akan hadir, manusia akan tetap beradab jika tetap memelihara sifat bawaannya, salah satunya adalah memelihara rasa malu. Semua itu dapat dimulai oleh guru. Sangat mudah untuk dilakukan, tidak memerlukan dana dan usaha yang besar. Hanya butuh kemauan dan keikhlasan untuk melakukannya. Jika kita melakukannya sekarang, tidak akan butuh waktu
sampai berabad-abad untuk menunggu hasilnya.

Daftar Pustaka

Al-Ghazali, I. (2003). Ihya Ulumiddin (Jilid 1). Semarang: CV ASY SYIFA.
An-Nawawi, I. (2015). Edisi Indonesia: Riyadhus Shalihin. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Solihah, I., & Asikin, I. (2021). Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Terkait Keutamaan Rasa Malu
dalam Kitab. Journal Riset Pendidikan Agama Islam, (57-62).
Statistik, B. P. (2021). Hasil Sensus Penduduk (SP2020) pada September 2020 mencatat
jumlah penduduk sebesar 270,20 juta jiwa. pada Mei 1, 2024, from
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2021/01/21/1854/hasil-sensus-penduduk
sp2020–pada-september-2020-mencatat-jumlah-penduduk-sebesar-270-20-juta-jiwa-
.html

Penulis: Siti Latifah
Asal Instansi: Madrasah Aliyah Zakaria Kota Bandung
Editor: Chania M. Widyasari

Chania Widyasari

Seorang staf digital marketing, penyuka buku, dan content creator di Instagram @chaniawidya. Hubungi saya lebih lanjut melalui e-mail chaniawidyasari@gmail.com atau DM Instagram.

You also like

Membuat Soal Kuis dengan Quizalize Kurang dari Satu Menit? Memang Efektif Terhadap Gaya Belajar Siswa dalam Pembelajaran di Zaman Digital?

Era digital telah menciptakan perubahan mendasar dalam hampir setiap aspek kehidupan manusia, dan pendidikan tidak terkecuali. Kehadiran teknologi…

Segitiga Pengaman Dunia Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

Berbeda dari era sebelumnya, Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan berbagai teobosan baru di bidang teknologi diantaranya Intenet of…

Call Sahabat Guru di Era Digital

Sebagai insan pendidikan, kita tentu tidak asing dengan kalimat ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut…

Tantangan Pendidikan Indonesia di Era Revolusi 4.0 Dan Society 5.0

Pendahuluan Pendidikan adalah kunci untuk membangun kapasitas manusia yang unggul. Dengan pendidikan yang berkualitas individu dapat mengembangkan potensi…

Yakin Siswa Siap Menghadapi Pembelajaran di Era Digital?

Perkembangan teknologi informasi saat ini mengalami kemajuan yang luar biasa, hampir di setiap sektor teknologi ini selalu hadir…

Penerbit Buku yang Lolos Penilaian Puskurbuk 2023!

Liniswara, sebagai penerbit buku SMK, menorehkan prestasi gemilang dalam Penilaian Pusat Kurikulum dan Buku (Puskurbuk) Kemendikbudristek 2023. Kiprahnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

×

Shopping Cart

No products in the cart.

Return to shop

Liniswara Online Store

Selamat datang di Liniswara, apa yang dapat kami bantu?

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu