Bayangkan anak SD belajar membaca dan berhitung—itu bukan supaya mereka langsung jadi penulis atau akuntan. Itu bekal cara berpikir. Nah, koding (coding) dan kecerdasan artifisial (AI) sebenarnya mirip: bukan sekadar “belajar jadi programmer”, tapi melatih cara berpikir yang akan kepakai di hampir semua bidang di masa depan.
Di era sekarang, teknologi bukan lagi “pelengkap”. Teknologi adalah lingkungan hidup baru. Anak-anak tumbuh dengan layar, aplikasi, dan algoritma. Pertanyaannya: mereka mau jadi pengguna pasif, atau pengguna yang paham cara kerja teknologi?
Saat anak belajar koding, yang sebenarnya terjadi adalah mereka belajar:
Memecah masalah jadi langkah-langkah kecil (dekomposisi)
Mengenali pola (pattern recognition)
Menyusun urutan logis (algoritma)
Menguji dan memperbaiki kesalahan (debugging)
Berpikir sistematis tapi kreatif
Semua ini adalah inti dari computational thinking keterampilan yang berguna untuk matematika, IPA, bahasa, bahkan saat anak belajar mengatur waktu dan mengambil keputusan.
Kabar baiknya: di SD, koding tidak harus langsung “ngetik kode panjang”. Banyak pendekatan yang ramah anak seperti block-based coding (misal model drag-and-drop) atau aktivitas unplugged (tanpa laptop) yang fokus pada logika.
AI sudah ada di:
rekomendasi video (YouTube/TikTok),
filter kamera,
pencarian Google,
prediksi teks di keyboard,
fitur foto “hapus objek”, dan lain-lain.
Kalau anak tidak dikenalkan konsep AI sejak dini, mereka akan melihat AI seperti “kotak hitam” yang selalu benar. Padahal AI itu:
bisa salah,
bisa bias,
bergantung pada data,
dan hasilnya dipengaruhi cara kita memberi instruksi (prompt) atau cara sistem dilatih.
Dengan mengenalkan AI sejak SD, anak belajar hal penting: teknologi perlu dipahami, dikritisi, dan digunakan secara bertanggung jawab.
Literasi digital bukan cuma “bisa pakai perangkat”. Anak SD juga perlu:
memahami privasi (data diri itu berharga),
mengenali hoaks dan konten manipulatif,
membedakan fakta vs opini,
tahu bahwa algoritma bisa “mengurung” kita di gelembung informasi (filter bubble),
punya etika saat memakai AI (misal tidak mencontek mentah-mentah).
Jika sejak SD sudah dibiasakan, anak akan tumbuh jadi pengguna teknologi yang kritis dan berdaya, bukan mudah terpengaruh
Kita tidak perlu memprediksi semua pekerjaan masa depan untuk bisa menyiapkan anak. Yang penting adalah fondasinya: cara berpikir, adaptasi, dan problem solving.
AI akan semakin banyak dipakai di berbagai bidang: kesehatan, bisnis, pendidikan, pertanian, industri kreatif. Anak yang sejak kecil terbiasa berpikir komputasional akan lebih siap menghadapi perubahan—bahkan kalau profesinya bukan di IT.
Usia sekolah dasar adalah masa ketika anak:
senang mencoba,
tidak takut salah,
cepat menyerap kebiasaan berpikir,
kuat dalam belajar lewat permainan dan eksplorasi.
Koding dan AI bisa dikemas sebagai aktivitas yang menyenangkan: game logika, cerita interaktif, robot sederhana, proyek kecil, atau tantangan kreatif. Dengan pendekatan yang tepat, anak akan memandang teknologi sebagai alat untuk berkarya, bukan hanya hiburan.
Tidak harus langsung rumit. Mulai dari level yang “ramah anak”:
Unplugged coding: permainan instruksi “maju–mundur–belok” seperti robot manusia
Block-based coding: konsep urutan, kondisi “jika–maka”, dan pengulangan
Proyek mini: animasi sederhana, cerita interaktif, atau kuis
AI dengan contoh nyata: bagaimana AI mengenali gambar/teks, kapan bisa salah
Etika dan kebiasaan baik: privasi, sopan digital, dan berpikir kritis terhadap hasil AI
Kuncinya bukan alatnya, tapi cara memandu anak berpikir.