Percepatan Kesiapan Kerja Siswa Vokasi oleh Guru
Guru ibarat kertas yang penuh dengan tulisan dimana tulisan tersebut mengandung berjuta makna yang dapat diterjemahkan ke berbagai literasi. Sebagaimana Al-quran, kata “Yasin” dapat diterjemahkan sesuai dengan kemajuan alam. Pada dunia pendidikan, pendidikan vokasi dianggap sebagai pilihan pelarian karena tidak lulus pilihan pertama yakni SMA, atau karena memang merasa tidak akan lulus sehingga memilih SMK namun setelahmasuk SMK masih menjadi pilihan kedua setelah pendidikan akademik. Anak-anak pada era milenial dan masuk pada era generasi Z, masih banyak memilih jurusan-jurusan yang bermakna bekerja di kantor seperti memilih jurusan Akuntansi, Tata kelola perkantoran, sedangkan peminat Pemasaran, perhotelah, Perjalanan wisata sedikit peminat, bahkan cenderung dianaktirikan. Pada pendidikan vokasi sedikit atau banyak peminat bukanlah hal yang dipermasalahkan yang terpenting adalah outputnya akan kemana dan dapat apa, nah disinilah peran guru, kita mulai dari orang tua, pendidikan menjadi hal yang penting guna membangun bangsa. Namun orang tua masih berpikir senang jika anaknya bekerja di kantor pergi pagi pulang sore lalu makan gaji, tidak orang tua harus di rubah anaknya harus pergi tepat waktu pulang tepat waktu penghasilan setiap waktu itu adalah pendidikan vokasi. Keterampilan praktis yang diperoleh dari pendidikan vokasi dapat membuka banyak pintu kesempatan kerja bagi siswa lulusan smk vokasi untuk itu adalah peran guru, peserta didik masuk ke dalam penjurusan secara matang adalah pada semester tiga dan empat masuk ke DUDIKA untuk magang dan peserta didik mendapatkan pendidikan vokasi nya belum dari sekolahnya. Hal itu disebabkan oleh pada semester itu peserta didik masih di ajari materi teori muatan kewilayahan dan muatan nasional, sementara kelompok mata pelajaran kejuruan yang notabenya adalah penjurusan masih banyak mengandung materi teori sedangkan pembelajaran program keahlian masih merupakan dasar dasar program keahlian belum masuk pada praktek kejuruan. Itu ada di kurikulum yang di keluarkan pemerintah sebagai regulas. Tidak salah dengan kurikulum maka dari itu pendidikan merdeka mengajar pada kurikulum merdeka bagaimana sang guru harus mengelola peserta didikya agar menjadi output yang mampu berkompetisi dengan peluang-peluang kerja yang dibutuhkan dunia industri. Pertanyaannya adalah bagaimana guru dapat mempersiapkan siswa vokasi untuk sukses di dunia kerja? Jawabnya adalah guru harus mempersiapkan siswanya dan memahami tren industri dan kebutuhan perusahaan seiring dengan itu guru dengan tidak bisa pamrih apapun jika ingin membangun generasi Z yang terlena dengan gadget agar tetap menjadi generasi produktif maka yang harus dilaksanakan adalah Memberikan pelatihan dan bimbingan tanpa henti hingga peserta didik mampu mengenali kemampuanya masing-masing. Kaum pendidik harus kreatif dan mampu memanfaatkan teknologi gadget digital dan penggunaan intenet sebagai bahan dan media keterampilan yang didasari dengan etika, cara, ilmu, dan penjabaran dari aplikasi – aplikasi pendukungnya ini dikarenakan tidak ada seorangpun dalam suatu kelas. Peserta didik yang tidak mempunyai gedget maka dari itu adalah mutlak guru mau tidak mau untuk mengusai aplikasi gadget sebagai media pembantu bagi kegiatan pembelajaran vokasi. Guru harus merekam metari belajar, dalam bentuk vedio baik itu secara teori maupun praktek. Peserta didik lebih banyak kegiatan vokasi berpraktek berdasarkan kesempatan kemampuan peserta didik, dan hal ini harus dibantu orang tua siswa baik pendanaan maupun kesempatan. Pada peserta didik yang tercandu gadget guru harus mengalihkan peserta didik bahwa melalui gadget anak juga bisa bersaing, maka penting bagi guru untuk membimbing siswa dalam mengembangkan keterampilan secara soft skills Memberikan pelatihan dan bimbingan, disini kembali peran besar guru harus memahami dari masing-masing soft skill dari peserta didik yang di mulai dari pendekatan terhadap orang tua siswa yang tentunya tidak harus face to face. Namun dapat dilakukan secara acak ataupun dengan cara pertemuan umum atau juga dengan cara by phone. Beberapa orang tua biasanya sangat antusias ketika memang program ini terlaksana hanya saja keinginana orangtua tersebut harus di dukung dengan bantuan pembiayaan secara mandiri guna ini karena diperlukan pembiayaan sedikit esktra. Setelah guru mengidentifikasi soft skill dari masing masing peserta didik dan kemudian dikelompokan dalam ketegori sejenis maka guru dapat mengintegrasikan keterampilan dan pengetahuan yang relevan dengan industri ke dalam kurikulum mereka dan pembelajaran dapat berlangsung namun harus mulai lebih banyak mengurangi pembelajaran teori, agar terjadinya fokus pada suatu soft skill yang terdapat pada masing-masing peserta didik melalui P5 peserta didik di bawa ke dunia nyata, dunia kerja setelah mempetakan dari masing – masing bakat dan minat dari peserta didik, dasar pemikiran yang dilaksanakan adalah merdeka mengajar dan merdeka belajar. Oleh karena itu bagi sekolah menengah kejuruan peserta didik masuk kedalam dunia kerja melalui pemagangan, siswa dikelompokan bukan saja berdasarkan jurusan tetapi dimulailah masuk ke soft skill dari masing-masing peserta didik tersebut, ini agar tercipta rasa tanggungjawab dan kecintaan terhadappembelajaran tersebut, sehingga ketergantungan dengan gedget dapat dialihkan namun untuksebagian tetap mereka tidak jauh dengan gadget tersebut sebagai toturial. Peserta didik sangatlah penting di perkenalkan dengan materi praktisi dunia kerja dan dunia industri oleh karena itu guru dapat mengundang profesional industri untuk memberikan wawasan kepada siswa, melalui pertemuan itu siswa di perkenalkan dengan materi kerja sebenarnya berdasarkan pengalaman dan kebutuhan industri sehingga peserta didik benar-benar mampu mempersiapkan dirinya secara teori maupun praktek yang tidak saja harus di dapat dari bangku sekolah bersama gurunya namun dapat juga dengan cara mandiri dalam bentuk belajar tambahan guna meningkatkan soft skill yang telah dimilikisiswa bersangkutan. Dan tentunya Guru tamu harus juga lintas disiplin ilmu yang berbeda hal ini dikarenakan banyak alumni yang pada akhirnya berkarir dan karirnya dapat menanjak terkadang sangat tidak relevan dengan dasar ilmu pengetahuan yang didapat dari bangku sekolah. Dengan demikian peserta didik akan terbiasa bekerja secara tim dan kemampuan berkomunikasi, serta pembelajaran kepemimpinan yang memang sudah sangat diperlukan oleh perusahaan-perusahaan. Dengan adanya Pendidikan vokasi sangat penting dalam mengatasi kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. siswa akan lebih siap untuk langsung terjun ke dunia kerja setelah lulus, karena mereka telah dilatih dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri. Pada peserta didik di era revolusi industri 4.0 mengacu pada sociaty 5.0 peran digital melalui gedget adalah suatu keharusan untuk mampu bersaing, oleh karena itu adalah pendidikan melalui disiplin ilmu bisnis digital dengan soft skill E-Commers adalah peluang emas bagi generasi Z, guna mendulang kesuksesan, tingkatkan literasi pemahaman internet dan aplikasi-aplikasinya dan mempelajari ilmu bisnis digital, brending, onboarding dan operatting guna menguatan pengetahuan E-Commers maka sudah mengarah pada kemapuan society 5.0.
Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Merdeka Belajar Berbasis Teknologi

SMA Negeri 2 Playen bersama dengan lima SMA lain di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ditetapkan sebagai Sekolah Penggerak Angkatan I pada Tahun Pelajaran 2021/2022. Sekolah Penggerak adalah sekolah yang membawa amanah pembelajaran paradigma baru dengan mengusung Kurikulum Merdeka. Sekolah Penggerak menitikberatkan pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi dan karakter. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan Indonesia yaitu mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global. Merupakan suatu tantangan untuk melahirkan insan pembelajar yang cerdas dan berkarakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Selain itu, para siswa juga dihadapkan pada tantangan menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.Revolusi Industri 4.0 merupakan era di mana segala hal pada peningkatan efisiensi produksi dengan mengintegrasikan teknologi robotika, kecerdasan buatan, dan analitik data untuk meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas dalam proses produksi. Sedangkan Society 5.0, adalah era industri yang didukung oleh teknologi digital dan manusia. Society 5.0 menekankan pada peran manusia dalam mengembangkan teknologi dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Untuk menjawab tantangan Revolusi industri 4.0 dan Society 5.0, perlu persiapan terutama dari dunia pendidikan. Siswa perlu dibekali dengan kecakapan hidup abad 21 atau biasa dikenal dengan istilah 4C (Creativity, Critical Thingking, Communication, Collaboration) agar memiliki kemampuan problem solving. Di samping kemampuan 4C, diperlukan pula keterampilan dalam berliterasi. Siswa diharapkan memiliki kemampuan 6 Literasi Dasar, yaitu literasi numerasi, literasi sains, literasi informasi, literasi finansial, literasibudaya dan kewarganegaraan. Tak kalah penting dari 4C dan 6 Literasi Dasar, siswa hendaknya memiliki karakter yang mencerminkan Profil Pelajar Pancasila seperti yang terkandung di dalam Kurikulum Merdeka. Profil Pelajar Pancasila ditanamkan kapada siswa melalui kegiatan intrakurikuler, ko kurikuler,dan ekstrakurikuler. Salah satu strategi untuk mencapai visi pendidikan Indonesia dan menghadapi segalatantangan tersebut adalah dengan penerapan Merdeka Belajar. Merdeka Belajar diharapkan mampu menciptakan pendidikan berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pendidikan berkualitas identik dengan pendidikan digital. Transformasi pendidikan digital ini dipercepat dengan adanya Pandemi Covid-19. Adanya Pandemi Covid-19 memiliki dampak positif yaitu mengubah proses belajar mengajar secara drastis, belajar tidak hanya terbatas di kampus. Belajar dapat dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi digital, dan hal itu menjadi sesuatu yang lumrah. Teknologi digital digunakan untuk menyediakan platform pembelajaran secara daring, bahan ajar digital, dan alat bantu pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran tidak terbatas, tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di luar sekolah, seperti melalui kursus secara daring, pelatihan-pelatihan, atau pengalaman kerja. Beruntunglah pada masa sekarang tersedia berbagai macam aplikasi yang dapat membantu siswa dalam belajar. Beberapa contoh teknologi yang sering diterapkan kepada siswa SMA Negeri 2 Playen terkait pembelajaran digital antara lain : Masih banyak lagi pembelajaran yang menggunakan teknologi digital. Guru memberikan berbagai alternatif media belajar, agar siswa merasakan pembelajaran bermakna, sekaligus membiasakan sdan memahamkan siswa bahwa teknologi digital itu bisa digunakan untuk belajar, bukan hanya semata-mata sarana rekreasi dan menjalin relasi. Pemanfaatan teknologi digital tidak hanya digunakan dalam pembelajaran intrakurikuler. Pembelajaran kokurikuler yang berwujud Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila juga sarat akan penggunaan teknologi digital. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ini adalah salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka. Sebagai contoh, misal Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila untuk tema Bangunlah Jiwa dan Raganya, siswa diminta membuat Karya Tulis Ilmiah secara berkelompok. Di sini siswa belajar secara kritis menganalisis permasalahan yang ada di lingkungan terdekat mereka, kemudian berusaha menyampaikan gagasan solusi secara kreatif. Kemudian mereka menuliskannya menjadisebuah karya tulis ilmiah. Dalam proses penilisan karya tulis ini, mereka belajar mengetik dengan komputer atau laptop sesuai dengan format yang ditentukan. Mereka juga belajar survei dengan cara wawancara langsung maupun melalui Google Form. Dimensi yang dikembangkan pada tema Bangunlah Jiwa dan Raganya ini adalah bernalar kritis, kreatif dan gotong royong. Untuk tema Kearifan Lokal, mereka berusaha mengangkat kearifan lokal yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka, kemudian mempromosikannya dalam bentuk web atau blog. Dimensi yang dikembangkan adalah bernalar kritis, kreatif, mandiri, dan gotong royong. Untuk tema Gaya Hidup Berkelanjutan, dengan nalarnya mereka mengkritisi fenomena pencemaran udara yang ada di sekitar mereka, menganalisis sebab dan dampaknya, kemudian berusaha secara kreatif mencari solusinya. Produk kampanye yang mereka hasilkan untuk menyosialisasikan solusi gagasan mereka terhadap pencemaran udara adalah video kreatif. Selain dimensi bernalar kritis dan kreatif, dengan tema Gaya Hidup Berkelanjutan ini, diharapkan siswa belajar mengembangkan dimensi beriman bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia. Tema projek selanjutnya adalah kewirausahaan. Siswa menciptakan produk inovatif yang dapat mereka jual, kemudian mengemasnya, kemudian menjualnya. Tak lupa mereka harus membuat business plan. Dilanjutkan tema Bhineka Tunggal Ika, yang tentu saja membidik dimensi berkebhinekaan global, siswa diminta merancang sekaligus mementaskan secara klasikal berbagai budaya nusantara di panggung pertunjukan. Secara undian masing-masing kelas mendapatkan provinsi tertentu dari semua provinsi yang ada di Indonesia. Tema projek berikutnya adalah Suara Demokrasi. Seiring perkembangan usia mereka, sebagian siswa memasuki fase usia pemilih pemula dalam berdemokrasi. Dengan tema ini mereka belajar hal-hal terkait demokrasi yang bersih dan tanpa kecurangan. Tema terakhir yang mereka dapatkan adalah Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun NKRI. Pada tema ini siswa diminta menciptakan produk teknologi tepat guna untuk mengatasi masalah-masalahdalam kehidupan. Pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ini diakhiri dengan Perayaan Hasil Belajar. Perayaan Hasil Belajar menampilkan hasil projek siswa yang telah dibuat. Siswa diberikan kebebasan berkreasi untuk menghias kelas supaya lebih menarik untuk dikunjungi. Pengunjung adalah orangtua atau wali siswa. Dengan demikian, orangtua atau wali dapat melihat hasil projek putra-putrinya. Dan untuk menjawab tuntutan zaman, SMA Negeri 2 Playen melengkapi standar kelulusan siswa kelas XII pada tahun pelajar 2023 / 2024 dengan mensyaratkan penyusunan KTI (Karya Tulis Ilmiah) secara individu sebagai kegiatan puncak belajar siswa dalam mengasah kemampuan berpikir kritis, analitis sekaligus mandiri dan bertanggungjawab dalam mendapatkan sekaligus mengolah data. Sekolah melakukan upaya penguatan kemampuan membaca teks informasi secara penuh. Sekolah masih melihat kelemahan siswa yang masih memiliki minat membaca yang rendah, berliterasi yang sempit dan kecenderungan tidak tertarik isu yang berkembang di masyarakat maupun jamannya. Pilihan tema yang disajikan disesuaikan dengan issue Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs (SustainableDevelopment Goals) yang dicanangkan PBB, yaitu : No Poverty, No Hunger,
Perkuat Guru Vokasi, Siapkan Angkatan Kerja Berkualitas

Membangun talenta masa depan yang unggul, inovatif, dan adaptif merupakan kunci keberhasilan ekonomi dan kemajuan negara di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 (Porter, 2014; Pew Research Center, 2017). Kompetensi seperti kreativitas, pemikiran kritis, kolaborasi, dan literasi digital menjadi esensial untuk tenaga kerja di tengah pesatnya kemajuan teknologi (Subandowo, 2022; Deloitte, 2022). Investasi dalam pengembangan sumber daya manusia melalui sistem pendidikan inovatif yang fokus pada keterampilan abad ke-21 vital untuk kemajuan ekonomi yang berkelanjutan dan daya saing global (Pew Research Center, 2021; Deloitte, 2024). Dengan demikian, mempersiapkan talenta masa depan yang kompetitif adalah strategi utama bagi negara dalam menghadapi transformasi digital saat ini (CarnegieEndowment for International Peace, 2019; McKinsey & Company, 2018). Pendidikan vokasi menjadi kunci dalam menyediakan lulusan siap bekerja dan relevan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja melalui kurikulum kolaboratif dengan industri (Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, 2023; Universitas KH. A. Wahab Hasbullah, 2019). Kompetensi teknis dan praktis yang dibutuhkan di dunia kerja dikembangkan melalui pendidikan vokasi (Sampul, n.d.; Hartanto, 2019). Lulusan vokasi dilengkapi dengan keterampilan komprehensif dan sikap kerja sesuai tuntutan industri (Bappelitbangda Sulsel, n.d.; Mitras DUDI – Penyelarasan, n.d.), menjadikan mereka tenaga kerja produktif yang diperlukan pasar(Universitas Islam An Nur Lampung, 2023; Kementerian Ketenagakerjaan RI, n.d.). Dengan demikian, pendidikan vokasi berperan penting dalam membentuk angkatan kerja berkualitas untuk tantangan era industri 4.0 dan society 5.0. Pendidikan vokasi dihadapkan pada berbagai tantangan di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0, termasuk kesenjangan keterampilan lulusan (Kaliongga, 2023; Damayanti, 2023), kurikulum yang kurang relevan (Ghufron, 2021; Raharja, 2022), serta kekurangan pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru (Diskominfo Kaltim, 2023; Universitas Kristen Satya Wacana, 2023). Diperlukan penyesuaian komprehensif dalam pendidikan vokasi, termasuk kurikulum, metode pembelajaran, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia, untuk mempersiapkan lulusan yang kompeten di era kerja digital yang terus berkembang. Peran guru vokasi sangat vital dalam mempersiapkan lulusan untuk memenuhi tuntutan pasar tenaga kerja (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020; Universitas Negeri Malang, 2021). Mereka mampu mengembangkan keterampilan teknis, praktis, adaptasi, serta menciptakan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan industri (Wibowo, 2019; Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, 2022), sehingga lulusan dapat memiliki kesiapan dan daya saing yang tinggi (Kaliongga, 2023; Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 2021). Oleh karena itu, perlu memperkuat peran guru vokasi agar dapat mengatasi tantangan seperti ketidaksesuaian kurikulum dan kesenjangan keterampilan, serta menyiapkan angkatan kerja yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi di era industri 4.0 dan society 5.0 (Hartanto, 2019; Ghufron, 2021). Pendidikan vokasi menghadapi berbagai tantangan dalam menghadapi perubahan teknologi dan tuntutan keterampilan baru di era revolusi industri 4.0 serta society 5.0 (Hartanto, 2019; Sabaruddin, 2022). Salah satu masalah utama adalah kesenjangan keterampilan, di mana sebagian lulusan tidak memenuhi kebutuhan industri yang terus berubah (Kaliongga, 2023; Damayanti, 2023). Hanya 65% lulusan vokasi dianggap siap bekerja industri (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020), sementara kurikulum yang kurang relevan menyebabkan rendahnya daya saing lulusan di pasar kerja (Ghufron, 2021; Raharja, 2022). Selain itu, kekurangan pelatihan guru vokasi dalam keterampilan digital dan pedagogik menghambat proses pembelajaran yang efektif (Diskominfo Kaltim, 2023; Universitas Kristen SatyaWacana, 2023), yang pada akhirnya tidak mempersiapkan lulusan dengan kompetensi yangdibutuhkan industri. Untuk mempersiapkan siswa menghadapi era revolusi industri 4.0 dan society 5.0, guru vokasi perlu memiliki kompetensi-kompetensi utama (Wibowo, 2019; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020). Penguasaan teknologi digital terkini menjadi kemampuan esensial agar guru dapat mengintegrasikan inovasi teknologi ke dalam proses pembelajaran (Diskominfo Kaltim, 2023; Bangun, 2022) dan membekali peserta didik dengan keterampilan digital yang dibutuhkan industri. Selain itu, pemahaman yang mendalam tentang tren dan kebutuhan industri saat ini serta masa depan (Ghufron, 2021; Raharja, 2022) memungkinkan guru untuk merancang kurikulum dan pembelajaran yang selaras dengan realitas dunia kerja. Terakhir, kemampuan mengembangkan kurikulum yang relevan, inovatif, dan adaptif terhadapperubahan (Sitompul, 2022; Wardina, 2019) memungkinkan guru menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi yang sesuai kebutuhan industri, sehingga dapat menjadi talenta masa depan yang siap bersaing (Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, 2023; Universitas Kristen Satya Wacana, 2023).Pengembangan profesional yang berkelanjutan menjadi kunci bagi guru vokasi dalam menghadapi tuntutan kompetensi era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 (Hartanto, 2019; Sabaruddin, 2022). Strategi meliputi pelatihan, workshop, dan program sertifikasi yang dirancang komprehensif (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020; Diskominfo Kaltim, 2023) untuk membekali guru vokasi dengan keterampilan digital, pemahaman tren industri, dan kemampuan mengembangkan kurikulum yang relevan (Ghufron, 2021; Raharja, 2022). Program sertifikasi nasional dapat meningkatkan pengakuan dan kredibilitas guru vokasi (Sitompul, 2022; Wardina, 2019), sementara kolaborasi erat antara institusi pendidikan, pemerintah, dan industri dalam merancang program pengembangan guru menjadi kunci keberhasilan (Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, 2023; Universitas Kristen Satya Wacana, 2023), memastikan guru vokasi mampu mempersiapkan lulusan yang unggul dan siap bersaing di dunia kerja. Kolaborasi erat antara institusi pendidikan vokasi dan dunia kerja kunci memastikan kesesuaian kurikulum dan program pembelajaran dengan kebutuhan pasar tenaga kerja (Kaliongga, 2023; Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, 2023). Program magang, proyek bersama, dan fasilitas praktik di lingkungan industri (Mitras DUDI, 2021; Universitas Indonesia, 2022) memungkinkan peserta didik untuk memperoleh pengalaman kerja langsung, terlibat dalam pengembangan solusi inovatif, dan menggunakan peralatan, teknologi, dan proses kerja yang mutakhir (Buku Praktisi DUDI, 2022; Suryanto, 2019; Ejournal Undiksha,2020; Hartanto, 2019; BBPPMPV BMTI, 2020; Universitas STEKOM, 2021). Kolaborasi yang efektif ini akan menghasilkan lulusan vokasi yang kompeten dan siap bersaing di dunia kerja (Damayanti, 2023; Sabaruddin, 2022). Di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0, membangun talenta masa depan yang berkualitas menjadi kunci untuk keberhasilan ekonomi dan kemajuan suatu negara, di mana pendidikan vokasi memainkan peran strategis dalam menyiapkan angkatan kerja yang siap menghadapi tuntutan pasar tenaga kerja yang terus berkembang. Untuk memperkuat peran guru vokasi, diperlukan upaya sistematis dalam meningkatkan kompetensi mereka terkait penguasaan teknologi terkini, pemahaman tren industri, dan kemampuan mengembangkan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Pengembangan kurikulum dan materi pembelajaran yang relevan serta kolaborasi antara institusi pendidikan vokasi dengan industri dan dunia kerja juga menjadi penting untuk memastikan kesesuaian dengan kebutuhan pasar. Terakhir, menciptakan lingkungan belajar yang autentik dan praktis menjadi kunci untuk mempersiapkan siswa vokasi menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Dengan upaya-upaya tersebut, kita dapat membangun talenta masa depan yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Daftar Pustaka Bangun,
AI (Artificial Intelligence) Memecahkan Ataukah Menambah Masalah Pembelajaran?

Kebutuhan hidup di Indonesia mengalami perkembangan yang selaras dengan perkembangan teknologi. Teknologi yang berkembang mempengaruhi sistem pembelajaran di sekolah seperti penggunaan internet sebagai sumber belajar bagi guru dan siswa. Guru dan siswa dituntut berkembang dengan adanya pengembangan teknologi AI (Artificial Intelligence) dimana beberapa pendapat menyatakan AI mempermudah dalam menganalisis masalah pembelajaran. Sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan harus memiliki kemampuan di bidang teknologi yang dipelajari selama di sekolah dalam menjalani eradigital ini. Era digital menimbulkan perkembangan teknologi yang harus berdampingan dengan sistem pendidikan Indonesia sejak internet membudaya. Penggunaan teknologi sangat berpengaruh dengan perkembangan kemampuan siswa dalam pembelajaran terutama pembelajaran Informatika yang pernah dihapus dari pembelajaran di sekolah. Pembelajaran Informatika atau TIK mulai dikembangkan kembali karena kurangnya pengetahuan siswa mengenai penggunaan teknologi seperti komputer dan laptop. Meskipun teknologi AI dapat diakses menggunakan handphone tetapi, beberapa sekolah tidak memperbolehkanpenggunaan hp selama KBM berlangsung dengan alasan penyalahgunaan oleh siswa. Adanya fasilitas sekolah seperti komputer dan laptop dapat membantu menambah referensi siswa apabila penggunaan hp dilarang selama KBM. Meskipun terdapat fasilitas sekolah tersebut kebanyakan siswa yang tidak menguasai teknologi mengalami tekanan karena malu dengan siswa lain padahal mereka bisa menggunakan hp dengan mudah. Siswa zaman sekarang kurang bisa memanfaatkan internet untuk menunjang pengetahuannya, fakta di lapangan siswa cenderung membuka sosial media daripada menambah pengetahuan mereka. Kebanyakan siswa meremehkan tugas yang diberikan oleh guru karena dunia internet menyediakan semua jawaban dalam menyelesaikan tugas. Padahal kita tahu bahwa semua jawaban di internet bersumber dari pemikiran banyak orang yang mudah diedit atau diperbaiki sehingga kebenarannya masih dipertanyakan. Ketika siswa hanya menyalin jawaban dari internet tanpa memahami maksud jawabannya mereka tidak akan mendapatkan pemahaman tentang materi tersebut. Apabila AI digunakan dalam pembelajaran bisa menambah atau memecahkan masalah ya? Pembelajaran di sekolah diperankan oleh guru dan siswa yang dimana ada timbal balik atau interaksi selama KBM berlangsung. Kemudahan teknologi yang sudah berkembang bisa mengurangi interaksi tersebut padahal manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia lain serta perlunya komunikasi agar tidak terjadi miskonsepsi. Miskonsepsi bisa terjadi apabila tidak ada guru yang meluruskan pemahaman siswa dari berbagai referensi yang mereka baca. Jika AI diterapkan dalam pembelajaran kemungkinan besar komunikasi dua arah tidak terbentuk dan moral siswa berkurang. Mengapa moral siswa berkurang? Hal ini disebabkan siswa lebih percaya dengan jawaban sistem daripada penjelasan oleh guru sehingga mereka kemungkinan terbesar memandang remeh kemampuan guru. Pernah mendengar istilah adab di atas ilmu yang artinya seberapapun pintarnyaseseorang jika tidak memiliki adab kepada manusia lain maka, ilmunya tidak akan berkah (sia-sia dalam agama). Kita di Indonesia meyakini agama yang beragam tetapi menjunjung tinggi yang namanya adab terutama kepada orang yang lebih tua. Sistem AI memudahkan siswa dalam menganalisis masalah yang diberikan oleh guru, sehingga siswa malas dalam berpikir kritis. Padahal kurikulum merdeka memberikan kebebasan siswa dan guru dalam mempelajari materi serta meningkatkan pola pikir siswa agar lebih kritis dengan masalah yang terjadi di lingkungan sekitar. Keterkaitan kegiatan sehari-hari dan di lingkungan sekitar bisa dijadikan analogi pembelajaran bagi siswa yang bisa menimbulkan keingintahuan siswa tentang proses atau penyebabnya. Keingintahuan siswa bisa jadi dugaan awal atau hipotesis sebelum memulai pembelajaran. Kegiatan yanglebih membekas dalam ingatan siswa dalam pembelajaran adalah praktek. Praktek merupakan kegiatan yang membuktikan hipotesis atau dugaan awal dengan teori yang ada sehingga bukan hanya audio (penjelasan guru) difungsikan, visual dan motorik mereka juga bekerja. Apabila AI digunakan hanya audio dan visual tanpa motorik menyebabkan daya tangkap dan daya ingat siswa tidak sekuat dengan adanya praktek. Peran guru selama kegiatan praktek sangatlah penting agar siswa terarah dengan metode yang dilakukan serta hasil yang diinginkan sesuai dengan teori yang dipelajari, adapun tidak kesesuaian dengan teori bisa dijadikan refleksi siswa pada materi tersebut. Era digital juga menuntut guru untuk berkembang dengan menguasai aplikasi untuk menunjang pembelajaran dan bersikap kreatif dalam penyampaian materi. Faktanya, hampir 70% guru mengalami pergantian kurikulum dan zaman sehingga kemampuan dalam penguasaan teknologi beragam. Metode pengajaran guru-guru terdahulu menyebabkan siswa di Indonesia belum terbiasa dengan literasi karena menggunakan metode ceramah. Bisa dibayangkan proses merubah kebiasaan siswa tersebut hingga bisa berpikir kritis membutuhkan jangka waktu yang lama apalagi jika harus mempelajari teknologi yang baru. Kemungkinan terbesar peran guru tidak diperlukan lagi jika AI diterapkan dalam pembelajaran karena sistem tersebut diatur bisa menjadi sumber belajar tanpa batas waktu. Hasil SDM dengan pembelajaran yang instan akan menambah jumlah pengangguran di Indonesia karena mereka tidak mau berusaha lebih atau sudah terbiasa mendapat jawaban instan dari AI. Berdasarkan opini saya di atas, kebijakan guru dan siswa dalam penggunaan AI dalam era digital ini sangat penting adapun batasan penggunaan teknologi yang bisa digunakan agar siswa tetap memiliki moral kepada guru maupun orang lain. DAFTAR PUSTAKA Sakiinah, Almira Nur, dkk. 2022. Revolusi Pendidikan di Era Society 5.0; Pembelajaran,Tantangan, Peluang, Akses, dan Keterampilan Teknologi. Jurnal PendidikanTransformatif (Jupetra), 02.Olii, Adam Al Aziz, dkk. 2023. Menjaga Kualitas Pendidikan di Era Society 5.0: Tantangandan Peluang dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0. Research Gate, TelkomUniversity.Teknowijoyo, Felixtian, dkk. 2021. Relevansi Industri 4.0 dan Society 5.0 TerhadapPendidikan di Indonesia. Jurnal Ilmu Kependidikan, 2, 173-184. Penulis: Nida Fitri Isnaini, S.Pd Asal Instansi: MAS Syekh Subakir Nglegok Editor: Chania M. Widyasari
Pengelolaan Kelas Inspiratif untuk Guru

Kita berada di era Disruption (meminjam istilah Clayton M. Christensen dalam Kasali, 2017). Era di mana dunia hari ini ditandai dengan Vitality, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. Hidup di era disruption ini membuat kita harus terus mengupdate dan mengupgrade diri, untuk meningkatkan kompetensi. Menghadapi tantangan ini, seakan kembali menemukan relevansinya, sebagai upaya untuk menjadikan kita menjadi survive di tengah gelombang transformasi kehidupan. Pilihannya apakah bisa memanfaatkan momentum untuk bisa memaksimalkan situasi dan kondisi, untuk sebanyak mungkinmemajukan dunia pendidikan, ataukah pasrah, menyerah dan kalah. Dalam menghadapi dilema situasi dan kondisi di atas, manusia hari ini seakandihadapkan pada pilihan antara berubah atau menyerah, resistensi atau adaptasi, transformasiatau stagnasi. Sementara itu, situasi dunia sudah banyak terjadi perubahan di berbagai linikehidupan. Bagi siapa yang tidak menyikapi dan mengikuti perubahan, niscaya akan dilindaszaman. Itulah hukum besi perubahan. Tidak terkecuali bagi Guru. Persoalannya, bagaimanakah eksistensi guru dalam menghadapi era disrupsi yang sangat dinamis dan cepat berubah, sulit diprediksi, rumit dan penuh komplikasi, serta membingungkan dan penuh paradoks ini. Guru seharusnya tertantang untuk tetap survive dengan cara menempatkan dirinya sebagai individu yang mampu bersifat adaptif menerima dinamika kehidupan. Faktanya hari ini, dunia pendidikan yang dihadapi bukan lagi kondisi yang samadengan masa 10 atau 20 tahun yang lalu. Para guru/pendidik hari ini yang notebene adalahproduk dari masa lampau yang masih “jadul”, harus berhadapan dengan peserta didikGenerasi Z (Gen-Z), yang dalam hal pola pikir, ucapan, tindakan, kebiasaan dan karakteryang sangat kontras (bahkan kontradiktif) dengan para gurunya. Belum lagi bicara tentangmassifikasi internet di kalangan peserta didik, yang bahkan tidak bisa hidup tanpa gawai ditangan. Kredonya, “biarlah fakir miskin, asalkan tidak fakir sinyal” (Sumardianta, 2014).Dalam istilah lain, para guru dari zaman kolonial mengajar para peserta didik dari zamanmilenial Wahai Para Guru, Berubahlah !Menghadapi fenomena ini, para guru (di manapun berada) seyogayanya harusberbenah dan berubah, karena sebagaimana diungkapkan, ST Kartono (2011), “Aktorperubahan pendidikan di negara ini hanya guru, tentu saja setelah guru itu sendiri berubah”.Perubahan guru yang paling fundamental adalah perubahan mindset dan paradigma berpikiritu sendiri. Dari sini kemudian akan melahirkan sikap curiosity (rasa ingin tahu) yang akanmendorong seorang guru untuk terus belajar dan belajar, sehingga akan meningkatkankualitas dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugasnya di sekolah. Karena diakui atau tidak, masih banyak para guru, yang masih terkungkung padaparadigma berpikir status quo, monoton, stagnan, pasif, bahkan anti perubahan. Seorang gurukarbitan yang hanya bermodal tutur dan kapur (talk and chalk). Baik bagi guru di kotaapalagi di desa, guru Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun honorer, Guru Sertifikasi maupuntidak, dan seterusnya. Bahkan dalam banyak penelitian ditemukan fakta,“bahwameningkatnya kesejahteraan guru tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kualitaspembelajaran di kelas”. Sungguh fenomena yang ironis berbalut tragis. Karena akibatnya, sebagaimana refleksi yang pernah diungkapkan Munif Chatib(2009), “banyak sekolah yang sadar atau tidak sadar, malah ‘membunuh’ banyak potensisiswa-siswa didiknya”. Karena terjadi malpraktik di dunia pendidikan secara massif, berupaDistachia (salah mengajar), yang bisa mengarah pada stupidifikasi (pelatihan menjadibodoh), yang pada ending-nya, akan melahirkan gembel-gembel (generasi malas belajar) didunia pendidikan. Sehingga tanpa disadari, akan terjadi pembodohan siswa secaratersistematis di institusi pendidikan. Pesan inilah yang pernah diungkapkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Risetdan Teknologi, Nadim Anwar Makarim, pada Hari Guru Nasional (HGN) 2019 yang lalu,agar para guru dapat melakukan perubahan kecil di kelas yang mendorong inovasipembelajaran (Kemdikbud, go.id, 2019). Saatnya para guru harus lebih kreatif dan inovatifdalam merancang pembelajaran di kelas. Jadikanlah ruang-ruang kelas, sebagai ruangpembelajaran yang inspiratif, menyenangkan dan bermakna. Sebagaimana yang pernah diungkapan, bahwa belajar akan efektif jika dilakukandalam suasana yang menyenangkan. atau dalam istilah Gordon Dryden & Jeanette Vos(2002), Learning is most effective when it’s fun. Dalam istilah Loomans dan Kolberg (dalamBobbi DePorter, Mark Reardon, Sarah Singer Nourie, 2004), jika kelas merupakanlingkungan yang hidup, kreatif, dan penuh tawa, maka murid dari segala usia memilikisaluran keluar alamiah di mana keingintahuan mereka berkembang. Nyalakan kelas dengan berbagai inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran, tidaksekedar mengejar ketuntasan kurikulum atau matrialisme kurikulum. Hal yang sama pernahdiungkapkan oleh Hernowo,”bahwa pembelajaran di kelas akan efektif dan menyenangkanapabila anak-anak didik dapat memperoleh semacam “alat-alat” (how) belajar, ketimbanghanya dijejali dengan materi (what) (Hernowo, 2005). Ada sebuah ungkapan bijak, bahwa “Mengajar adalah Seni, Mengajar menuntutketerampilan dan kreativitas”. Dimulai dari desain kelas yang menyenangkan dan inspiratif,proses pembelajaran di kelas yang interaktif, kreatif, inovatif, menyenangkan dan bermaknadengan berbagai model-model pembelajaran yang variatif. Pun juga penggunaan teknologiinformatika yang relevan. Sehingga membuat proses pembelajaran yang berlangsung bisamenjadikan peserta didik sosok yang “kasmaran” dalam belajar. Penulis: Moh. Zulham Alsyahdian Asal Instansi: SMP Negeri 4 Keritang Editor: Chania M. Widyasari
Tantangan Mengajar Kimia Siswa SMK: Praktik dan Konsep
Hidup di zaman dengan perkembangan teknologi yang canggih namun masih sangat buta dengan teknologi. Itu adalah salah satu fenomena yang menurut saya banyak ditemui di kalangan siswa. Betapa tidak, siswa di zaman sekarang, yang sering disebut sebagai generasi Z merupakan anak yang sangat mudah mengakses teknologi karena teknologi dalam genggaman mereka. Namun, mereka menggunakan teknologi yang ada sebagai fasilitas memenuhi kesenangan mereka semata bukan sebagai sarana untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka. Sehingga banyak ditemui bahwa siswa-siswa sangat akrab dengan berita atau bahkan dengan trend yang terjadi saat ini namun sangat asing dengan kemajuan teknologi sesuai dengan bidang ilmu yang mereka pelajari di sekolah. Bahkan banyak ditemui mereka menggunakan telepon genggam yang canggih namun tidak bisa mengoperasikan aplikasi kalkulator saintifik. Fakta yang sangat miris memang.Selain masih buta teknologi, siswa juga mempunyai kemampuan matematika dasar yang rendah. Siswa masih sangat kesulitan memahami dan menyelesaikan operasi matematika sederhana. Namun di sisi lain, siswa SMK memiliki antusiasme yang tinggi dalam pembelajaran praktik. Sebagai seorang guru SMK di jurusan kimia analisis, ini merupakan tantangan unik dalam mengajar siswa-siswa vokasi untuk menumbuhkan kecintaan mereka terhadap aktivitas belajar. Fenomena ini menginspirasi saya untuk fokus pada pengembangan kemampuan praktik mereka, sehingga mereka dapat menjadi siswa vokasi yang terampil dan siap terjun ke dunia industri. Rendahnya kemampuan matematika dasar yang dimiliki oleh siswa menjadi tantangan utama yang saya hadapi. Padahal kemampuan ini sangat penting dalam pemahaman dan penerapan konsep kimia, terutama dalam melakukan perhitungan stoikiometri dan perbandingan mol. Namun, saya melihat bahwa siswa-siswa kami lebih nyaman dan antusias saat melakukan praktik di laboratorium daripada mempelajari konsep-konsep kimia secara teoritis. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menekankan pengembangan kemampuan praktik mereka sebagai strategi utama dalam menghadapi tantangan ini.Saya menekankan pada praktik-praktik kimia yang relevan dengan dunia industri. Siswa diberikan kesempatan untuk melakukan praktik langsung di laboratorium, menggunakan peralatan dan teknik analisis yang digunakan dalam industri. Saya juga memberikan proyek-proyek praktik yang menuntut siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan masalah-masalah yang relevan dengan industri kimia. Kesempatan praktik juga diperluas melalui kerjasama dengan industri. Selain kegiatan magang sekolah juga melakukan kerjasama dengan industri dalam pelaksanaan kelas industri. Di kelas ini, siswa diberikan pembelajaran langsung oleh indutri. Pembelajarannya meliputi kegiatan pembelajaran di kelas dan pembelajaran di lapangan. Ketika di kelas, industri memberikan materi dan arahan tentang kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa sedangkan ketika di lapangan siswa diajak untuk terjun langsung ke lapangan menghadapi pelanggan mereka. Hasilnya, saya melihat peningkatan yang signifikan dalam kemampuan praktik siswa-siswa kami. Mereka menjadi lebih terampil dalam melakukan analisis kimia, mengoperasikan peralatan laboratorium, memahami prosedur-prosedur kerja dalam industri serta menumbuhkan disiplin dan budaya kerja. Mereka juga menjadi lebih percaya diri dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam situasi-situasi praktis uterus mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif dalam mengajarkan konsep- konsep kimia secara interaktif dan menarik. Saya percaya bahwa pengembangan kemampuan praktik kimia merupakan langkah yang tepat dalam mempersiapkan siswa-siswa vokasi untuk menyongsong era industri 4.0. Namun, tantangan dalam mengajarkan konsep-konsep kimia secara teoritis menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan dalam pendekatan pembelajaran. Saya berharap agar dapat terus berinovasi dan berkolaborasi dengan rekan guru dan pihak terkait lainnya sehingga dapat tercipta lingkungan belajar yang lebih efektif dan relevan bagi siswa-siswa. Daftar RujukanTjiptady , B.C, Yoto & Tuwoso. 2019. Improving the Quality of Vocational Education in the4.0 Industrial Revolution by using the Teaching Factory Approach. InternationalJournal of Innovation, Creativity and Change. 1(8). 22-28. Rakhmah, Diyan Nur. 2021. Gen Z Dominan, Apa Maknanya bagi Pendidikan Kita? Dalampskp.kemdikbud.go.id pada 4 Februari 2021 Penulis: Sri Hidayati Asal Instansi: SMKN 1 Mojoanyar – Kabupaten Mojokerto Editor: Chania M. Widyasari
Membuat Soal Kuis dengan Quizalize Kurang dari Satu Menit? Memang Efektif Terhadap Gaya Belajar Siswa dalam Pembelajaran di Zaman Digital?
Era digital telah menciptakan perubahan mendasar dalam hampir setiap aspek kehidupan manusia, dan pendidikan tidak terkecuali. Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi yang begitu kuat telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan. Fenomena ini mencakup tidak hanya penggunaan alat dan platform digital di dalam kelas,tetapi juga mempengaruhi cara siswa belajar, guru mengajar, dan institusi pendidikan merancang Kurikulum Mereka. Dengan pesatnya perkembangan teknologi, era digital memunculkan sejumlah isu yang perlu dipahami dan diatasi untuk memastikan bahwa pendidikan tetap relevan dan bermanfaat di tengah dinamika zaman ini (Gusti Khairani Nasution, Rina Hayati Maulidiah, 2024). Melihat siswa yang memiliki akses yang memadai terhadap perangkat lunak atau perangkat keras, ditambah fasilitas sekolah yang cukup lengkap seperti menyediakan koneksi internet. Hal ini menciptakan divisi antara siswa dapat mengakses pendidikan digital dengan mudah dan mampu memanfaatkan teknologi tersebut. Oleh karena itu, tantangan akses ini perlu dilakukan dengan baik agar privilege ini dimanfaatkan dengan bijak dalam mengakses pendidikan berkualitas. Keberhasilan pembelajaran menuntut guru memiliki inisiatif dan prosedur yang tepat untuk mempromosikan pembelajaran aktif dan memberikan siswa pengalaman belajar yang sesuai. Pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa. Oleh karena itu,pembelajaran membutuhkan media pembelajaran untuk menciptakan komunikasi yang baik. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memudahkan upaya untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Siswa kurang termotivasi untuk menerima materi dari guru, hal ini dikarenakan guru dalam memberikan pengetahuan kepada siswa berdasarkan pedoman dalam buku sumber,terlepas dari apa yang siswa hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sebagian besar siswa pasif dan hanya mendengarkan apa yang jadi penjelasan guru selama proses pembelajaran. Kurangnya media terkait pembelajaran juga membuat pembelajaran menjadi monoton dan mendorong penerimaan dan pemahaman materi menjadi rendah. Kualitas pembelajaran sering dikaitkan dengan kinerja siswa, dan pemahaman siswa terhadap materi harus ditingkatkan untuk mencapai kinerja siswa yang unggul (Nufaisatunnida, 2023). Hal tersebut merupakan proses pembelajaran yang berbasis motivasi siswa, dipastikan dengan media pembelajaran yang dapat menunjang proses pembelajaran tanpa mengabaikan peran guru dalam proses pembelajaran. Peran guru sangatlah penting, salah satu cara yang baik adalah melalui penggunaan media digital melalui permainan yang dapat merangsang minat belajar siswa. Di zaman digital, kemampuan guru menjadi krusial dalam menghadapi transformasi pendidikan yang dipicu oleh teknologi. Selain menguasai alat-alat teknologi dan platform pembelajaran online,guru perlu memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran secara kreatif dan efektif, memastikan bahwa siswa terlibat aktif dan memperoleh pemahaman yang mendalam tentang materi pelajaran. Selain itu, kemampuan guru dalam mengelola kelas virtual, menyediakan umpan balik yang berarti, dan memfasilitasi kolaborasi antar-siswa menjadi semakin penting dalam menyediakan pengalaman pembelajaran yang relevan dan bermakna di era digital. Era digital telah membuka pintu bagi pembelajaran berbasis teknologi, di mana guru dan siswa dapat mengakses sumber daya pendidikan secara online. Platform pembelajaran daring seperti aplikasi Quizalize yang memberikan akses global terhadap pelajaran dari berbagai bidang. Ini tidak hanya memberikan kemudahan akses, tetapi juga memungkinkan pembelajaran yang disesuaikan dengan kecepatan dan gaya belajar masing-masing siswa. Aplikasi Quizalize adalah sebuah platform pembelajaran online yang memungkinkan guru untuk membuat kuis interaktif dan menarik untuk siswa mereka (Hafizha et al., n.d.). Berikut adalah beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan dengan menggunakan aplikasi Quizalize: Hal yang menarik dalam menggunakan Quizalize yakni saat menggunakan aplikasi ini membantu para guru dalam mendapatkan asesmen salah satunya membuat kuis dengan AI. Dalam aplikasi ini, guru bisa langsung memasukan tema atau materi apa yang ingin dibuatkan soal kuisnya dengan AI. Kurang dari satu menit, AI ini akan memberikan daftar pertanyaan serta jawabannya baik khususnya dalam bentuk soal pilihan ganda. Membuat soal quiz kurang dari satu menit tentunya ini memudahkan guru dalam mengoptimalkan kegiatan pembelajaran apalagi diiringi dengan pemanfaatan teknologi. Seperti yang kita ketahui dalam Kurikulum Merdeka ini kita menggunakan Understanding by Design (UbD) yang mana kita diawali dengan melihat tujuan pembelajarannya, kegiatan pembelajaran lalu ke asesmennya. Dalam membuat tujuan pembelajarannya, kita menggunakan metode pembelajaran yang berdiferensiasi, dimana pada tahap kedua kegiatan pembelajaran menyesuaikan gaya belajar siswa seperti ada yang visual, auditori dan kinestetik. Terakhir asesmen apa yang digunakan seperti menggunakan Quizalize dalam mendapatkan penilaian formatif, sehingga hal ini menjadikan kemampuan guru dalam mengelola kelas di zaman digital. Salah satu nya bisa menggunakan barcode yang berisikanlink langsung masuk ke dalam game di Quizalize. Selain siswa bermain game seperti fitur basket di Quizalize saat menjawab soal, siswa juga bermain di luar kelas untuk mencari barcode untuk mereka scan agar masuk ke link Quizalize ini, sehingga pembelajaran semakin menarik dan mencakupi tiga gaya belajar siswa yang tentunya terpenuhi. Dengan menggunakan platform ini, guru dapat menciptakan kuis interaktif, memantau kemajuan siswa secara individual, mendorong kolaborasi antara siswa, dan menyediakan umpan balik yang relevan. Selain itu membuat kuis kurang dari satu menit dengan bantuan AI sebagai bentuk kemampuan guru dalam menjawab tantangan pendidikan di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran tentunya membuktikan kemampuan guru dalam mengelola kelas di zaman digital. Hal ini membantu meningkatkan keterlibatan siswa, memperkuat pemahaman mereka tentang materi pelajaran, dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis dan menyenangkan. Dengandemikian, penggunaan Quizalize oleh guru tidak hanya meningkatkan efektivitas pembelajaran, tetapi juga merangsang perkembangan keterampilan sosial, kerja sama, dan kritis siswa di era digital. Daftar Pustaka Gusti Khairani Nasution, Rina Hayati Maulidiah, I. (2024). PENINGKATAN MINAT BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA DIGITAL QUIZALIZE BERBASIS GAME PADA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS VII-1. 8(2), 156. Hafizha, F. Z., Febriani, K., Rosmana, P. S., Iskandar, S., Gustavisiana, T. S., Rosyani, W. A.,Guru, P., Dasar, S., & Pendidikan, U. (n.d.). PENGGUNAAN QUIZALIZE SEBAGAIMEDIA PEMBELAJARAN DIGITAL BERBASIS GAME DALAM MENINGKATKAN HASIL berkualitas . Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas manusia adalah dengan belajar tinggi . Dihimpun juga informasi bahwa kegiatan belajar mengajar masih b. 31–36. Nufaisatunnida, D. (2023). Pengaruh Era Digital Terhadap Pendidikan. Panturapost.https://www.panturapost.com/opini/2073341944/opini-pengaruh-era-digital-terhadap-pendidikan Nurjannah, N., Nurfadhilah, N., Nurfiana, N., & Danial, D. (2023). Pelatihan Pemanfaatan Aplikasi Quizalize Dalam Pembelajaran Siswa Di MAN 2 Sinjai. Catimore: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(1), 48–54. https://doi.org/10.56921/cpkm.v2i1.62. Penulis: Septia Abdul Rouf Asal Instansi: SMA Talenta Bandung Editor: Chania M. Widyasari
Segitiga Pengaman Dunia Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0
Berbeda dari era sebelumnya, Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan berbagai teobosan baru di bidang teknologi diantaranya Intenet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI). Kedua teobosan tersebut berdampak pada berbagai bidang kehidupan, tak tekecuali bidang pendidikan. Dalam pendidikan, IoT dapat digunakan untuk menghubungkan berbagai perangkat elektronik dalam kelas, seperti proyektor, komputer, dan papan tulis interaktif (Ekowati et al. 2023, h. 21). Tak kalah menariknya, AI yang dalam istilah bahasa Indonesia diartikan sebagai kecerdasan buatan juga memberikan banyak manfaat bagi dunia pendidikan. Guru dan siswa dapat menggunakan AI untuk mempermudah kegiatan pembelajaran, salah satunya sebagai mentor virtual. Perkembangan AI menjadi salah satu penyebab lahirnya gagasan Society 5.0, dan Jepang menjadi negara pertama yang mempeloporinya. Society 5.0 menempatkan masyarakat yang berpusat pada manusia untuk menyeimbangkan kemajuan ekonomi dan penyelesaian masalah sosial dengan sistem yang saling berintegrasi antara ruang siber dan fisik (Sanita, Meigitaria.2023). Singkatnya, kehadiran era Society 5.0 melengkapi kehadiran Revolusi Industri 4.0 dengan tujuan untuk kehidupan manusia yang lebih baik. Konsep Society 5.0 ini cenderung berfokus mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif, berkelanjutan, serta lebih manusiawi dalam menggunakan kecerdasan buatan, robotika, dan teknologi maju lainnya (Nancy, Y.2023). Perubahan pada berbagai lini kehidupan pada era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 juga menjadi sebuah tantangan bagi dunia pendidikan. Perubahan yang terjadi tentunya bukan hanya berdampak positif namun juga dapat berdampak negatif. Sebagai contoh, penggunaan IoT dan AI yang dapat membantu memudahkan siswa dalam belajar, namun di sisi lain dapat menjadi bumerang yang justru membuat siswa menjadi sangat ketergantungan dengan IoT dan AI. Seiring berjalannya, maka kehadiran berbagai teknologi Revolusi Industri 4.0 dapat menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membawa kebermanfaatan namun di sisi lain dapat menjadi sesuatu yang membahayakan. Oleh karena itu sangat diperlukan peran sekolah, keluarga, dan juga masyarakat sebagai segitiga pengaman yang menjadi elemen penting dalam bidang pendidikan. Hal ini sebagaimana pandangan Ki Hadjar Dewantara mengenai Tri Pusat Pendidikan, bahwa anak didik tidak semata-mata hanya belajar di sekolah tetapi juga dalam keluarga dan masyarakat (Suparlan, H. 2014, h.4). Adanya keterlibatan peran segitiga pengaman dari sekolah, keluarga, dan masyarakat maka diharapkan Revolusi Industri 4.0 bukan menjadi pisau yang membahayakan, namun sebaliknya dapat menjadi pisau yang bermanfaat untuk menjawab tuntutan perkembangan zaman. Peran sekolahSekolah bukan sekadar wadah siswa menimba ilmu secara akademik, lebih dari itu sekolah merupakan ruang berekspresi bagi warga sekolah khususnya siswa untuk mengembangkan semua potensi diri. Potensi diri sesuai bakat minatnya, baik dalam bidang akademik ataupun bidang non akademik. Terlebih sekolah adalah bagian dari ekosistem kehidupan yang mengaktualisasikan filosofis memanusiakan manusia. Ketika filososfis tersebut dapat dijalankan maka tantangan zaman apapun bukan menjadi pekerjaan rumah yang rumit dan menjadi beban. Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 memberikan banyak kemudahan dan kesempatan bagi siswa untuk mendapatkan pengalaman belajar. Namun fakta lainnya berkata lain, keterbukaan akses informasi tersebut terkadang tidak dibarengi dengan filter yang mumpuni dalam menyaring informasi hoaks hingga kejahatan siber yang mengancam keamanan data pribadi. Untuk itu sekolah wajib memberikan pemahaman dan pembekalan lebih jauh kepada siswa tentang IoT dan AI, serta dampaknya dari segi positif maupun negatif. Keterampilan siswa dalam menggunakan IoT dan AI sudah seharusnya juga dibarengi oleh sikap waspada,bijaksana dan beretika. Dengan kata lain harus adanya keselarasan dan keseimbangan antara hard skills dan soft skills agar dapat beradaptasi dengan baik. Peran Orang TuaDalam menghadapi tantangan Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 tentunya peran orang tua siswa juga ikut menjadi penentu. Keluarga khususnya orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi seorang anak. Hubungan harmonis serta komunikasi yang baik antara orang tua dan anak tentunya akan memengaruhi karakter anak. Ketika anak memiliki karakter yang baik dari rumah maka menjadi modal utama dalam berinteraksi di lingkup yang lebih luas bukan hanya di dunia nyata namun juga di dunia maya. Modal karakter tersebut juga dapat menjadi bekal hidup untuk menjawab tantangan zaman, terutama tantangan pada Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Karakter yang dilandasi budi pekerti yang baik dapat menjadi filter penyaring dampak negatif teknologi. Semua produk teknologi, termasuk IoT dan AI merupakan sesuatu yang bersifat netral, keduanya dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat atau justru membahayakan. Terlebih jika pengguna merupakan anak yang masih di bawah umur atau usia sekolah. Maka bimbingan,pengawasan serta pengayoman dari orang tua menjadi bagian dari solusi atas permasalahan di era disrupsi saat ini. Peran MasyarakatBagus tidaknya kualitas pendidikan juga dapat dipengaruhi oleh dukungan masyarakat sekitar. Harus diakui masyarakat memiliki peran besar bagi sekolah. Karenanya tidak berlebihan jika dikatakan kelangsungan hidup sekolah juga bergantung pada masyarakat (Hidayat, I.W. 2020).Maka sangat dibutuhkan kolaborasi yang baik antara pihak sekolah, keluarga dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagai contoh, salah satu permasalahan pada Era Revolusi Industri 4.0 adalah semakin tingginya angka kecanduan game online pada anak usia sekolah, hal ini berdampak pada menurunnya motivasi belajar. Untuk mengatasinya tentu dibutuhkan kolaborasi antara pihak sekolah, orang tua dan masyarakat. Salah satu peran masyarakat diantaranya adanya individu atau kelompok masyarakat yang ahli atau professional dalam mengatasi permasalahan kecanduan game online pada anak, sehingga dampak negatif dari kecanduan tidak berkepanjangan serta dapat sembuh. Hingga akhirnya anak tersebut dapat menjalankan kehidupannya secara normal dan terarah, seperti dapat fokus belajar dan mengekspresikanpotensi diri sesuai bakat dan minatnya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kolaborasi peran sekolah, orang tua dan masyarakat dapat menjadi segitiga pengaman dalam dunia pendidikan untuk menjawab tantangan di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Keberhasilan kolaborasi tersebut akan membentuk siswa notabene sebagai generasi penerus bangsa yang adaptif terhadap tuntutan perkembangan zaman. Dengan demikian cita-cita era Society 5.0 yang mengusung ide membentuk masyarakat super-cerdas serta lebih berkualitas di masa depan akan terwujud. Tantangan zaman tentunya jelas akan selalu ada, namun keterlibatan peran segitiga pengaman (sekolah, orang tua dan masyarakat) yang kolaboratif akan menjawab tantangan tersebut. Sehingga generasi emas mendatang, yang bukan hanya cerdas secara kognitif namun juga berkarakter baik serta berdaya saing benar-benar menjadi sebuah kenyataan, dan bukan sekadar isapan jempol. Daftar Pustaka Ekowati, M.A.S, Nindyatama, Z.P, Wening, S & Dananti, K. 2023. “Pengembangan Sistem Kelas Cerdas Berbasis Internet of Things (IoT) untuk Proses Pembelajaran Tingkat SMP di Kota Surakarta”, Journal Informatic Technology And Communication, vol.7, no.1, h.
Call Sahabat Guru di Era Digital
Sebagai insan pendidikan, kita tentu tidak asing dengan kalimat ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani, yang menjadi ruh dari pendidikan nasional di Indonesia. Semboyan tersebut diperkenalkan oleh tokoh penting dalam perkembangan pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Melalui semboyan tersebut, beliau menegaskan bahwa menjadi seorang guru bukan hanya bertugas untuk mentransfer ilmu kepada murid, tetapi guru haruslah bisa menjadi contoh, penyemangat dan pengayom bagi murid-muridnya. Guru harus menjadi teladan. Guru bukan hanya mengajar, namun juga mendidik murid. Sebagaimana disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, guru memiliki peran penting dalam mempersiapkan murid untuk dapat hidup sebagai anggota masyarakat yang berbudaya. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Melalui pendidikan dapat tercipta masyarakat yang beradab.Tugas pendidiklah untuk melatih dan menciptakan ruang agar nilai-nilai kemanusian murid-murid dapat bertumbuh. Sejatinya, tujuan pendidikan adalah menuntun laku dan kodrat murid agar dapat bertumbuh menjadi manusia yang merdeka, tidak bergantung pada orang lain, baik secara individu seutuhnya maupun sebagai bagian dari masyarakat. Kodrat yang dimiliki murid terdiri atas kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan lingkungan dimana murid tumbuh dan berkembang, sedangkan kodrat zaman adalah zaman atau rentang waktu pada saat murid tumbuh dan berkembang. Bila melihat dari kodrat zamannya, pendidikan saat ini menekankan pada kemampuan murid untuk memiliki keterampilan Abad 21 yaitu berpikir kritis, komunikasi, kreatif dan kolaboratif. Guru tidak hanya membekali ilmu pada ranah pengetahuan semata, namun juga menuntun murid untuk memiliki softskill yang unggul. Menuntun murid mengembangkan keterampilan tersebut memang bukanlah hal yang mudah. Guru harus dapat menciptakan ruang dan suasana belajar yang menyenangkan sehingga murid dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman dan aman. Kemampuan guru dalam mengelola kelas memegang peranan penting dalam upaya mencapai tujuan belajar yang akan dicapai. Pengelolaan kelas tidak hanya tentang bagaimana mengatur kelas secara fisik, tetapi juga rutinitas serta seluruh komponenpembelajaran untuk dapat menciptakan kondisi kelas yang kondusif sehingga pembelajaran berjalan efektif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, guru tidak hanya mempersiapkan materi atau bahan ajar, tetapi merancang bagaimana kegiatan pembelajaran akan berjalan nantinya. Seiring dengan perkembangan teknologi, kini guru semakin dimudahkan dalam mempersiapkan pembelajaran. Berbagai aplikasi telah tersedia untuk membantu guru menyusun dokumen pembelajaran. Mulai dari Chat GPT, Gemini, Copilot dan bermacam teknologi AI lainnya dapat dimanfaatkan untuk mencari referensi materi atau assessment. Namun, perlu diingat bahwa berbagai teknologi tersebut hanya alat untuk mempermudah tugas guru dalam mempersiapkan pembelajaran, bukan sebagai pengganti guru di kelas. Kemampuan pengelolaan kelas seorang guru tetaplah menjadi modal utama dalam mewujudkan kelas yang kondusif dan suasana belajar yang nyaman. Semaju apapun teknologi, jika tanpa kemampuan guru untuk memilih dan memilah jenis kegiatan, materi, dan penilaian yang akan diberikan kepada murid, mustahil dapat mencapai kondisi ideal. Guru harus memahami bahwa murid adalah individu yang memiliki karakteristik dan latar belakang yang berbeda. Satu teknik mungkin bekerja dengan baik pada kelas A, akan tetapi tidak dapat diterapkan di kelas B. Sayangnya, hal tersebut sering kali luput dari perhatian para guru dalam merancang dan mengelola kelas. Sebenarnya pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pembelajaran bukanlah hal yang baru apalagi tabu untuk digunakan. Sejak tahun 1950-an, ilmuan telah berusaha mengembangkan teknologi yang dapat membantu guru dalam kegiatan pembelajaran agar efektif dan efisien. Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah CALL (Computer Assisted Language Learning). Walaupun awalnya, CALL dimaksudkan untuk membantu pembelajaran terkait bahasa, saat ini CALL juga dimanfaatkan pada mata pelajaran lain. Sampai ditemukannya mikrokomputer, pembelajar bahasa harus bekerja secara non-interaktif dengan menggunakan komputer mainframe. Pengguna harus memasukkan datanyadalam sebuah kartu, menjalankan program, lalu menunggu hasilnya. Meskipun dengan keterbatasan tersebut, program CALL sederhana untuk latihan dan pengujian muncul sejak awal tahun 1950-an, dan sejumlah proyek pionir CALL muncul pada tahun 1960-an. Fase pertama CALL ini disebut sebagai CALL havioristik (Kern & Warschauer). CALL tersebut mendominasi tahun 1960an dan 1970an dengan mereplikasi teknik pengajaran linguistik struktural dan metode audio-lingual, suatu model pembelajaran bahasa behavioris berdasarkan kebiasaan formasi (Richards & Rodgers, 2001). Teknik meniru yang digunakan dalam laboratorium bahasa pada saat itu sebagian besar terdiri dari latihan dan praktik. Namun, pada akhir tahun 1970-an, pendekatan behavioris terhadap bahasa pembelajaran ditentang oleh pendekatan komunikatif berdasarkan fokus pada makna penggunaan bahasa daripada pengajaran formal (Richards & Rodgets, 2001). Dengan munculnya mikrokomputer yang semakin kuat di tahun 1980-an, menyajikan kemungkinan yang lebih luas adanya interaksi pada pembelajaran dengan menggunakan CALL dan berbagai buku pionir tentang metodologi CALL mulai diterbitkan. Saat ini, CALL telah berada pada tahap integratif. Fase tersebut muncul pada pertengahan tahun 1990-an dan terus berkembang seiring dengan perkembangan komputer desktop yang canggih, yang mendukung penggunaan Internet, jaringan area lokal (LAN), multimedia, dan sumber daya terkait yang dikenal sebagai hypermedia (Warschauer, 1996). Sekarang, program bahasa multimedia yang khas, memungkinkan murid untuk melakukan tugas membaca dalam bahasa target, menggunakan kamus, mempelajari tata bahasa dan pengucapan terkait dengan bacaan, memungkinkan akses materi pendukung dan terjemahan dalam bahasa pertama murid(L1), menonton film, dan mengikuti tes pemahaman terhadap isi bacaan, menerima umpan balik dengan segera, semuanya dalam program yang sama. Pendekatan secara interaktif dan individual, dengan fokus utama pada konten yang didukung dengan modul yang menginstruksikan pelajar tentang keterampilan khusus sangat membantu terciptanya kelas yang kondusif, efektif dan efisien. Terkait masa depan CALL dan arah teknologi pendidikan di dalamnya, secara umum, dari sudut pandang kita saat ini, tidak mungkin untuk memvisualisasikan perubahan yang akan terjadi akibat perkembangannya dimasa depan. Beberapa ahli memilih bersikap hati-hati terhadap kehancuran hubungan antar manusia dan fragmentasi masyarakat sebagai hasil dari komunikasi yang dimediasi komputer. Beberapa yang lain memperkirakan bahwa kita sedang menuju dunia tanpa batas, dengan munculnya perantara yang dengan cepat dapat menyebarkan pengetahuan dan informasi. Ada pula yang memperingatkan bahwa teknologi dan infrastruktur canggih cenderung mengistimewakan budaya dan pedagogi pendidikan negara-negara maju,sehingga menciptakan kesenjangan digital yang hegemonik antara negara-negara kaya dan teknologi negara miskin. Namun, Murray (2000) mengamati bahwa teknologi komunikasi baru seperti konferensi video dan email belum menggantikan bentuk lama seperti panggilan telepon dan surat, melainkan saling melengkapi, sehingga arah hubungan antar pembelajaran dan teknologi sangatlah erat. Meskipun demikian, sebagian besar peneliti setuju bahwa perubahan besar sedang terjadi,pergeseran dalam penggunaan teknologi umum dan pendidikan dari kelas yang berpusat