Call Sahabat Guru di Era Digital

Sebagai insan pendidikan, kita tentu tidak asing dengan kalimat ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani, yang menjadi ruh dari pendidikan nasional di Indonesia. Semboyan tersebut diperkenalkan oleh tokoh penting dalam perkembangan pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Melalui semboyan tersebut, beliau menegaskan bahwa menjadi seorang guru bukan hanya bertugas untuk mentransfer ilmu kepada murid, tetapi guru haruslah bisa menjadi contoh, penyemangat dan pengayom bagi murid-muridnya. Guru harus menjadi teladan. Guru bukan hanya mengajar, namun juga mendidik murid. Sebagaimana disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, guru memiliki peran penting dalam mempersiapkan murid untuk dapat hidup sebagai anggota masyarakat yang berbudaya. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Melalui pendidikan dapat tercipta masyarakat yang beradab.Tugas pendidiklah untuk melatih dan menciptakan ruang agar nilai-nilai kemanusian murid-murid dapat bertumbuh. Sejatinya, tujuan pendidikan adalah menuntun laku dan kodrat murid agar dapat bertumbuh menjadi manusia yang merdeka, tidak bergantung pada orang lain, baik secara individu seutuhnya maupun sebagai bagian dari masyarakat. Kodrat yang dimiliki murid terdiri atas kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan lingkungan dimana murid tumbuh dan berkembang, sedangkan kodrat zaman adalah zaman atau rentang waktu pada saat murid tumbuh dan berkembang. Bila melihat dari kodrat zamannya, pendidikan saat ini menekankan pada kemampuan murid untuk memiliki keterampilan Abad 21 yaitu berpikir kritis, komunikasi, kreatif dan kolaboratif. Guru tidak hanya membekali ilmu pada ranah pengetahuan semata, namun juga menuntun murid untuk memiliki softskill yang unggul. Menuntun murid mengembangkan keterampilan tersebut memang bukanlah hal yang mudah. Guru harus dapat menciptakan ruang dan suasana belajar yang menyenangkan sehingga murid dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman dan aman. Kemampuan guru dalam mengelola kelas memegang peranan penting dalam upaya mencapai tujuan belajar yang akan dicapai. Pengelolaan kelas tidak hanya tentang bagaimana mengatur kelas secara fisik, tetapi juga rutinitas serta seluruh komponenpembelajaran untuk dapat menciptakan kondisi kelas yang kondusif sehingga pembelajaran berjalan efektif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, guru tidak hanya mempersiapkan materi atau bahan ajar, tetapi merancang bagaimana kegiatan pembelajaran akan berjalan nantinya. Seiring dengan perkembangan teknologi, kini guru semakin dimudahkan dalam mempersiapkan pembelajaran. Berbagai aplikasi telah tersedia untuk membantu guru menyusun dokumen pembelajaran. Mulai dari Chat GPT, Gemini, Copilot dan bermacam teknologi AI lainnya dapat dimanfaatkan untuk mencari referensi materi atau assessment. Namun, perlu diingat bahwa berbagai teknologi tersebut hanya alat untuk mempermudah tugas guru dalam mempersiapkan pembelajaran, bukan sebagai pengganti guru di kelas. Kemampuan pengelolaan kelas seorang guru tetaplah menjadi modal utama dalam mewujudkan kelas yang kondusif dan suasana belajar yang nyaman. Semaju apapun teknologi, jika tanpa kemampuan guru untuk memilih dan memilah jenis kegiatan, materi, dan penilaian yang akan diberikan kepada murid, mustahil dapat mencapai kondisi ideal. Guru harus memahami bahwa murid adalah individu yang memiliki karakteristik dan latar belakang yang berbeda. Satu teknik mungkin bekerja dengan baik pada kelas A, akan tetapi tidak dapat diterapkan di kelas B. Sayangnya, hal tersebut sering kali luput dari perhatian para guru dalam merancang dan mengelola kelas. Sebenarnya pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pembelajaran bukanlah hal yang baru apalagi tabu untuk digunakan. Sejak tahun 1950-an, ilmuan telah berusaha mengembangkan teknologi yang dapat membantu guru dalam kegiatan pembelajaran agar efektif dan efisien. Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah CALL (Computer Assisted Language Learning). Walaupun awalnya, CALL dimaksudkan untuk membantu pembelajaran terkait bahasa, saat ini CALL juga dimanfaatkan pada mata pelajaran lain. Sampai ditemukannya mikrokomputer, pembelajar bahasa harus bekerja secara non-interaktif dengan menggunakan komputer mainframe. Pengguna harus memasukkan datanyadalam sebuah kartu, menjalankan program, lalu menunggu hasilnya. Meskipun dengan keterbatasan tersebut, program CALL sederhana untuk latihan dan pengujian muncul sejak awal tahun 1950-an, dan sejumlah proyek pionir CALL muncul pada tahun 1960-an. Fase pertama CALL ini disebut sebagai CALL havioristik (Kern & Warschauer). CALL tersebut mendominasi tahun 1960an dan 1970an dengan mereplikasi teknik pengajaran linguistik struktural dan metode audio-lingual, suatu model pembelajaran bahasa behavioris berdasarkan kebiasaan formasi (Richards & Rodgers, 2001). Teknik meniru yang digunakan dalam laboratorium bahasa pada saat itu sebagian besar terdiri dari latihan dan praktik. Namun, pada akhir tahun 1970-an, pendekatan behavioris terhadap bahasa pembelajaran ditentang oleh pendekatan komunikatif berdasarkan fokus pada makna penggunaan bahasa daripada pengajaran formal (Richards & Rodgets, 2001). Dengan munculnya mikrokomputer yang semakin kuat di tahun 1980-an, menyajikan kemungkinan yang lebih luas adanya interaksi pada pembelajaran dengan menggunakan CALL dan berbagai buku pionir tentang metodologi CALL mulai diterbitkan. Saat ini, CALL telah berada pada tahap integratif. Fase tersebut muncul pada pertengahan tahun 1990-an dan terus berkembang seiring dengan perkembangan komputer desktop yang canggih, yang mendukung penggunaan Internet, jaringan area lokal (LAN), multimedia, dan sumber daya terkait yang dikenal sebagai hypermedia (Warschauer, 1996). Sekarang, program bahasa multimedia yang khas, memungkinkan murid untuk melakukan tugas membaca dalam bahasa target, menggunakan kamus, mempelajari tata bahasa dan pengucapan terkait dengan bacaan, memungkinkan akses materi pendukung dan terjemahan dalam bahasa pertama murid(L1), menonton film, dan mengikuti tes pemahaman terhadap isi bacaan, menerima umpan balik dengan segera, semuanya dalam program yang sama. Pendekatan secara interaktif dan individual, dengan fokus utama pada konten yang didukung dengan modul yang menginstruksikan pelajar tentang keterampilan khusus sangat membantu terciptanya kelas yang kondusif, efektif dan efisien. Terkait masa depan CALL dan arah teknologi pendidikan di dalamnya, secara umum, dari sudut pandang kita saat ini, tidak mungkin untuk memvisualisasikan perubahan yang akan terjadi akibat perkembangannya dimasa depan. Beberapa ahli memilih bersikap hati-hati terhadap kehancuran hubungan antar manusia dan fragmentasi masyarakat sebagai hasil dari komunikasi yang dimediasi komputer. Beberapa yang lain memperkirakan bahwa kita sedang menuju dunia tanpa batas, dengan munculnya perantara yang dengan cepat dapat menyebarkan pengetahuan dan informasi. Ada pula yang memperingatkan bahwa teknologi dan infrastruktur canggih cenderung mengistimewakan budaya dan pedagogi pendidikan negara-negara maju,sehingga menciptakan kesenjangan digital yang hegemonik antara negara-negara kaya dan teknologi negara miskin. Namun, Murray (2000) mengamati bahwa teknologi komunikasi baru seperti konferensi video dan email belum menggantikan bentuk lama seperti panggilan telepon dan surat, melainkan saling melengkapi, sehingga arah hubungan antar pembelajaran dan teknologi sangatlah erat. Meskipun demikian, sebagian besar peneliti setuju bahwa perubahan besar sedang terjadi,pergeseran dalam penggunaan teknologi umum dan pendidikan dari kelas yang berpusat

Tantangan Pendidikan Indonesia di Era Revolusi 4.0 Dan Society 5.0

Pendahuluan Pendidikan adalah kunci untuk membangun kapasitas manusia yang unggul. Dengan pendidikan yang berkualitas individu dapat mengembangkan potensi dan bakat mereka secara maksimal. Hasil akhir yang diharapkan adalah sumber daya manusia yang kompeten, kreatif, dan inovatif, yang menjadi tulang punggung kemajuan bangsa. Manuasia Indonesia yang berkualitas adalah modal utama dalam persaingan global. Pendidikan yang baik juga merupakan kunci untuk pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Peningkatan pendidikan akan akan menciptakan lebih banyak tenaga kerja yang terampil dan terlatih. Hal ini mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas dan inovasi dalam berbagai sektor industri. Selain itu pendidikan juga memiliki peran dalam membangun kebudayaan dan identitas bangsa. Melalui pendidikan, generasi muda diajarkan untuk menghargai warisan budaya dan nilai-nilai nasional. Selain itu pendidikan menciptakan individu dengan nilai nilai positif, membentuk karakter dan kepribadian yang kuat, sebagai modal membangun peradaban maju bersama warga dunia lain. Dalam era globalisasi dan revolusi industri, pendidikan juga penting untuk menyediakan keterampilan yang diperlukan bagi individu untuk menghadapi tantangan masa depan. Keterampilan seperti keakraban dengan literasi digital, keterampilan berpikir kritis dan analitis, dan kemampuan beradaptasi yang menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan yang cepat di era revolusi 4.0 dan society 5.0 ini. Saat ini dunia pendidikan di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan, hambatan dan persoalan. Di antaranya adalah; akses yang tidak merata, kualitas pendidikan yang bervariasi, kurangnya sumber daya manusia yang terlatih, kurikulum yang tidak relevan,tantangan teknologi dan literasi digital, tantangan finansial. Perkembangan zaman membawa Indonesia pada era revolusi 4.0 dan society 5.0. menghadapi perkembangan tersebut tentu diperlukan perubahan cara pandang, analisa, kebijakan baru dalam kebijakan pendidikan Indonesia. Pendidikan di Indonesia mempunyai tantangan baru yang bemunculan. Pada tulisan ini saya akan mengkaji terkait tantangan dalam dunia pendidikan yang dialami bangsa Indonesia di era revolusi 4.0 dan society 5.0. Selain itu kita akan membahas terkait solusi yang tepat terhadap tantangan dalam dunia pendidikan yang dialami bangsa Indonesia di era revolusi 4.0 dan society 5.0. Pembahasan Istilah revolusi industri 4.0 populer setelah pameran industri Hannover Fair Februari 2011. Forbes mendefinisikan revolusi industri sebagai adanya ikut campur sebuah sistem cerdas dan otomasi dalam industri. Hal ini digerakkan oleh data melalui teknologi machine learning dan AI (Artificial Intelegent). Dalam kalimat sederhana revolusi industri 4.0 adalah perkembangan industri yang ditandai dengan pentingnya penggunaan kecerdasan buatan di dalamnya. Konsep society 5.0 diperkenalkan oleh Jepang. Konsep ini merupakan adaptasi terhadap tahapan revolusi 4.0 dimana fokus pada kemampuan manusia menyesuaikan diri terhadap tahapan revolusi 4.0. Binus University mendefinisikan society 5.0 sebagai integrasi teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari masyarakat secara menyeluruh. Perbedaan mendasar revolusi 4.0 dan society 5.0 adalah pada episetrum perubahan yang terjadi. Revolusi 4.0 membahas penerapan kecerdasan buatan dalam perkembangan industri dan ekonomi. Society 5.0 membahas adaptasi perseroangan dan masyarakat dalam revolusi 4.0. Hal demikian juga terjadi di indonesia. Penetrasi internet di akhir dekade akhir tahun 1980an, dan perkembangan artificial intelegent sejak akhir tahun 2000an, telah membawa Indonesia ke era revolusi 40. Era society 5.0 juga melanda indonesia ditandai dengan akrabnya masyarakat Indonesia dengan teknologi kecerdasan buatan dalam bidang tertentu. Smart home, smart acces, smart school, face recognition biometric recognition, chat gpt adalah contoh yang layak disebut. Kembali ke fungsi penting pendidikan Indonesia, hadirnya era revolusi 4.0 dan society 5.0 tentu menghadirkan tantangan dan persoalan baru. Tuntutan untuk mencerdaskan bangsa dihadapkan pada kondisi kemajuan teknologi (era revolusi 4.0) kebutuhan beradaptasi (era society 5.0), yang melahirkan tantangan terhadap dunia pendidikan di Indonesia di era revolusi 4.0 dan era society 5.0 diantaranya sebagai berikut terkait peningkatan teknologi dalam Revolusi Industri 4.0 telah meningkatkan kesenjangan digital diantara siswa. Tidak semua individu memiliki akses atau keterampilan yang sama dalam menghadapi teknologi baru. Hal ini menciptakan ketidaksetaraan dalam akses pendidikan yang efektif. Selain itu perubahan cepat dalam kebutuhan pasar kerja dan munculnya profesi baru mengharuskan penyesuaian dalam kurikulum pendidikan. Namun, banyak sistem pendidikan masih menggunakan kurikulum yang ketinggalan zaman, gagal menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tuntutan dunia kerja masa depan. Era Revolusi Industri 4.0 menuntut keterampilan yang berbeda dari yang sebelumnya. Keterampilan seperti pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital menjadi kunci keberhasilan di tempat kerja. Namun, banyak sistem pendidikan masih fokus pada pembelajaran berbasis pengetahuan tradisional. Peran guru dalam pendidikan tidak lagi terbatas pada penyampaian informasi. Mereka harus berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran, menginspirasi siswa untuk belajar mandiri, dan mengembangkan keterampilan abad 21. Namun, tidak semua guru memiliki keterampilan atau dukungan yang cukup untuk melakukan peran ini dengan efektif. Untuk mengatasi tantangan pendidikan di era Revolusi 4.0 dan Society 5.0, langkah-langkah berikut perlu dipertimbangkan: o Perubahan kurikulum Pemerintah dan lembaga pendidikan harus merombak kurikulum mereka untuk memasukkan keterampilan abad 21, seperti pemecahan masalah, kreativitas, dan literasi digital. Ini membutuhkan kerjasama antara sektor pendidikan, industri, dan masyarakat. o Peningkatan dan penyebarluasan akses teknologi Program subsidi atau inisiatif pemerintah diperlukan untuk memastikan semua siswa memiliki akses yang setara terhadap teknologi pendidikan. Ini dapat termasuk subsidi perangkat keras, akses internet, dan pelatihan untuk guru dan siswa dalam penggunaan teknologi. o Peningkatan kualitas guru Program pelatihan guru harus diperbarui untuk mencakup strategi pengajaran yang relevan dengan era Revolusi 4.0. Dukungan dan sumber daya juga perlu ditingkatkan untuk membantu guru dalam mengembangkan keterampilan baru. Penutup Perkembangan era adalah keniscayaan. Alih alih menjadi hambatan, Jaman baru dan semua tantangan yang hadir justru menjadi peluang membuat kemajuan yang lebih baik. Dari upaya menjawab tantangan itulah kita menunjukkan peningkatan mutu yang membuat kita lebih unggul dibanding negara lain. Namun demikian untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, industri, dan masyarakat secara keseluruhan.Investasi dalam infrastruktur teknologi, pelatihan guru, penelitian dan pengembangan kurikulum, serta program inklusi sosial menjadi kunci untuk memastikan bahwa pendidikan tetap relevan dan efektif dalam menghadapi perubahan zaman. Harus diingat,ini bukan hanya tentang mempersiapkan pelaku pendidikan beradaptasi dengan android. Tetapi ini adalah menjawab tantangan zaman, sebagai bagian dari kegiatan mencerdaskan bangsa, yang menjadi amanat abadi konstitusi kita, Agar tercipta manusia Indonesia yang unggul dalam kehidupan bersama antar bangsa. Daftar Pustaka https://alumni.bsi.ac.id/alumnicareer-detail/society-5.0:-transformasi-masyarakat-dalam-era-digital, diakses pada diakses pada Senin, 22 April 2024, 10.12 WIB https://alumni.bsi.ac.id/alumnicareer-detail/society-5.0:-transformasi-masyarakat-dalam-era-digital, Senin, 22 April 2024, 11.12 WIB https://www.kominfo.go.id/content/detail/16505/apa-itu-industri-40-dan-bagaimana-indonesia-menyongsongnya/0/sorotan_media, diakses pada Senin, 22 Aparil 2024, 11.55 WIB https://www.kominfo.go.id/content/detail/16505/apa-itu-industri-40-dan-bagaimana-indonesia-menyongsongnya/0/sorotan_media, Senin, 22 April 2024, 12.12 WIB Penulis: Rofiq Ali Muhsin,

Yakin Siswa Siap Menghadapi Pembelajaran di Era Digital?

Perkembangan teknologi informasi saat ini mengalami kemajuan yang luar biasa, hampir di setiap sektor teknologi ini selalu hadir tentu keadaan ini berbeda jauh jika kita hidup di tahun 2000-an ke bawah. Hari ini, kecanggihan teknologi informasi dapat dinikmati oleh hampir semua kalangan, Mulai anak-anak sampai orang dewasa. Pelajar hingga pengajar, Rakyat hingga pejabat, Bahkan masyarakat di desa hingga kota. Tak ayal, orang menyebut zaman ini dengan Era Digital. Pertanyaannya adalah, apakah dengan semakin majunya teknologi informasi siswa semakin siap menghadapi pembelajaran di Era Digital? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita lihat dulu laporan Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024 yang diterbitkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Jumlah pengguna internet di Indonesia pada Januari 2024 mencapai 221,6 juta jiwa. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 1,31% dibandingkan tahun 2023. Artinya, 79,5% dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 278,7 juta jiwa kini sudah terhubung ke internet. Dalam enam tahun terakhir, jumlah pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu sebesar 14,70%. Dari data tersebut, kita mengetahui bahwa internet bukan barang baru dan sudah akrab di telinga masyarakat. Kondisi ini menandakan bahwa dari sisi sarana, yaitu teknologi informasi, siap untuk mendukung pembelajaran di Indonesia. Selanjutnya, dilihat dari pembagian umur, Generasi Z yang lahir antara tahun 1997 sampai 2012 tercatat sebagai pengguna internet terbanyak di Indonesia, yaitu sebesar 34,40 persen. Disusul oleh Generasi Milenial, kelahiran tahun 1981 hingga 1996, dengan pengguna internet sebesar 30,62 persen. Dari data ini, menunjukkan bahwa pengguna internet mayoritas adalah usia pelajar dan produktif. Artinya, mereka siap dengan pola pembelajaran baru berbasis teknologi informasi. Ditambah pengalaman keberhasilan pendidikan Indonesia dalam melewati masa Covid-19. Setidaknya faktor tersebut menjadi modal tersendiri bagi pendidikan di Indonesia. Yaitu, tersedianya sarana yang mendukung, ditambah pengalaman pahit yang berhasil dilalui. Lalu, apakah faktor tersebut menjamin siswa lebih siap dalam menghadapi pembelajaran? Tunggu dulu! Ada kalanya hitungan di atas kertas berbanding terbalik dengan realita. Mari kita anilisis bersama. Data yang dimuat di situs databoks.katadata.co.id menunjukkan lebih dari separuh remaja usia 13-15 tahun aktif di Instagram setiap hari. Platform ini menjadi yang paling populer dengan pengguna harian mencapai 58%, mengungguli Facebook (53%), Whatsapp (46%),TikTok (45%), dan Facebook Messenger (37%). Selain remaja kita menggunakan platform perpesanan, ternyata mereka mengakui bermain gim setiap hari bahkan menjadi aktivitas populer dengan angka yang cukup besar, yaitu 56%. Dari sini kita patut menduga bahwa anak bermain platform perpesanan dan gim cenderung lebih menarik daripada membuka platform pembelajaran. Dari 24 jam sehari, bisa dihitung dengan jari berapa lama bermain gim, Instagram-an, Facebook-an, WA-an, dan Tik-Tok-an. Berapa lama belajar, bahkan berapa lama waktu istirahat dan makan yang tersita. Seringnya siswa berinteraksi dengan internet tidak menjamin apa yang diakses adalah platform yang “bergizi.” Bisa jadi justeru yang diakses adalah “racun” bagi masa depan mereka. Misalnya saja judi online yang marak dan mudah diakses sehingga sangat mungkin menodai para remaja kita. Dari data yang dirilis oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), terhitung 157 juta transaksi judi online terjadi di Indonesia selama periode 2017 hingga 2022. Transaksi-transaksi ini menghasilkan perputaran uang yang fantastis, mencapai Rp190 triliun. Setelah melihat data-data di atas, saya memandang bahwa para siswa di Indonesia, di usia yang masih muda sekalipun, mampu mengoperasikan alat komunikasi dengan lihai. Betapa tidak, smartphone/gawai selalu berada di samping mereka. Bangun tidur main gawai. Di sekolah main gawai. Saatnya berkumpul juga lebih asyik memainkan gawai. Sehingga saya yakin mereka lebih melek teknologi dan sangat mudah diarahkan jika pembelajaran berbasis teknologi informasi. Jika dalam pembelajaran ada hal baru yang belum mereka kuasai, sayapun yakin mereka akan menemukan solusinya dengan cepat. Mereka dapat memanfaatkan mesin pencari atau Artificial Intelligence (AI) yang lebih canggih. Bahkan siswa kita ada yang mampu membuat coding pemrograman dan membuat aplikasi yang bagus. Kekuatan inilah yang dapat mendorong pendidikan Indonesia lebih maju. Para pelajar kita akan mampu bersaing dengan negara lain jika terus diasah. Pengetahuan mereka tentang software dan hardware harus terus ditingkatkan. Termasuk softskill dan kepribadian mereka juga ditempa agar mampu bersaing di tingkat global. Selanjutnya, saya berharap stakeholder pendidikan jangan merasa puas dengan kemampuan para siswa dalam memanfaatkan teknologi informasi. Karena tujuan besarnya adalah bukan mereka pandai dalam mengoperasikan teknologi. Akan tetapi, mereka harus mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk kemaslahatan bersama. Tidak disalahgunakan,merugikan, merusak, apalagi mencelakakan orang lain. Di balik kekuatan yang ada, tentu ada kelemahan yang harus diwaspadai agar pembelajaran siswa di era digital benar-benar siap. Pertama, kecenderungan siswa berlebihan dalam berinteraksi dengan gawai. Kebanyakan dari mereka lupa waktu untuk belajar, lalai dalam mengerjakan tugas, dan lebih asyik bermain gim atau media sosial. Dari 24 jam sehari, sepertinya siswa lebih banyak membuka dan memainkan aplikasi non-pembelajaran. Kedua, dengan adanya kemudahan akses internet terbuka lebar juga potensi untuk mengakses situs-situs negatif seperti judi online, pornografi, dan lain-lain. Sehingga orang tua,guru, dan pemerintah harus memastikan mereka tidak mengakses situs-situs yang dapat merusak masa depan mereka. Ketiga, lemahnya pengawasan terhadap para siswa dalam memanfaatkan teknologi informasi. Masih banyak siswa yang tidak tabayyun dalam menerima informasi, juga tidak bijak dalam meneruskan informasi. Yang akhirnya terkungkung dalam lingkaran hoaks. Kelemahan ini semakin rumit seiring dengan gempuran aplikasi yang memanjakan penggunanya. Aplikasi baru yang lebih user friendly, asyik, gratis, tampilannya menarik, dan lain-lain. Sementara aplikasi yang “bergizi” tampilannya biasa-biasa saja. Tentu hal ini,semakin ditinggalkan para siswa. Dengan demikian, kesiapan siswa dalam menghadapi pembelajaran di era digital akan ditentukan seberapa jauh mereka menguasi sarana teknologi informasi yang ada. Setidaknya saat ini jaringan internet relatif tersedia di mana-mana. Alat pengakses internet berupa smartphone atau laptop juga sudah banyak digunakan. Artinya, dari sisi sarana siswa siap untuk melakukan pembelajaran. Yang menjadi kendala adalah seberapa jauh kemampuan mereka dalam mengendalikan dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri sebagai siswa. Apakah konsisten dalam membagi waktu untuk belajar, atau justeru tergoda dengan asyiknya gim, media sosial, bahkan judi online? Jadi, siap atau tidaknya siswa dalam menghadapi pembelajaran di era digital dapat dilihat dari uraian di atas. Anda yakin? Wallau’alam. Daftar Pustaka Javier, Faisal. 2024. Berapa Banyak Pengguna Internet di Indonesia? Diakses pada 29 April 2024 dari https://data.tempo.co/data/1843/berapa-banyak-pengguna-internet-di indonesia#:~:text=Berdasarkan%20rilis%20Survei%20Penetrasi%20Internet,2023%20hingga%2019%20Januari%202024. KBBI, 2023. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Diakses 29 April 2024 dari: https://kbbi.kemdikbud.go.id/. Lidwina, Andea. 2021. Instagram,

Opini Guru: Malu Hilang Peradaban Melayang!

“Dulu zaman saya SMA ga ada yang berani gitu ke guru”, “zaman dulu sekolah boro-boro pake kalkulator, ngitungnya ditalar aja”. Itu contoh ungkapan-ungkapan generasi tua saat ini mengomentari fenomena-fenomena anak sekolah zaman now. Memang faktanya, keadaan zamannya pun tidak sama. Jadi kalau kita hendak membanding-bandingkan keadaan saat ini dengan zaman dulu, ya pasti akan banyak yang berubah. Keadaan murid-murid saat ini berbeda dengan keadaan murid-murid di era-era sebelumnya, baik pada aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap/karakternya sehingga kurikulum sekolahpun terusmengalami perubahan dan perbaikan untuk disesuaikan dengan keadaan zaman. Masa pasti berganti, era pasti berbeda, dan zaman pasti berubah. Itu semua adalah suatu keniscayaan. Semua orang sudah mengetahui akan hal itu Tapi kenapa… ada saja hal yang mengherankan bahkan membingungkan manakala keadaan manusia dari generasi ke generasi mengalami perubahan. Begitu pula fenomena murid-murid saat ini. Yang dipersoalkan itu sebetulnya apa? perubahan pada tingkat kecerdasannya atau perubahan pada skillnya atau perubahan pada karakternya? Yang sering jadi sorotan dan dijadikan biang kerok dari kasus-kasus kenakalan bahkan kriminalitas yang dilakukan murid sekolah itu adalah perubahan pada karakternya. Masyarakat awam tidak terlalu ambil pusing dengan hasil survei tentang kualitas murid-murid di Indonesia pada aspek pengetahuan dan keterampilannya. Tetapi maraknya kasus tawuran dan perundungan yang dilakukan oleh murid sekolah membuat banyak pihak angkat bicara meskipun sekedar komentar di media sosial. Perubahan karakter murid saat ini erat kaitannya dengan era disrupsi teknologi digital. Dimana masa saat ini terjadi inovasi dan perubahan yang terjadi secara masif karena hadirnya teknologi digital. Masifnya inovasi dari pola lama ke pola baru itulah yang bisa mengubah berbagai sistem, termasuk merubah karaktek manusianya itu sendiri. Tak terkecuali anak sekolah. Contohnya saat ini murid bisa dengan mudah dan cepat mengerjakan tugas sekolah apapun dengan hanya menggunakan AI (Artificial Intelligence) karena teknologi ini mampu meniru kecerdasan manusia. Naif kalau kita mengatakan bahwa AI tidak merubah karakter murid. Teknologi yang bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia dengan target efisien dan efektif ternyata membawa dampak negatif dalam jangka panjang. Nah salah satu dampak jangka panjangnya adalah berubahnya karakter manusia sehingga mengurangi bahkan menghilangkan martabatnya sebagai manusia yang beradab. Kondisi inilah yang menjadi tantangan besar di semua bidang termasuk pendidikan. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2020 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistikkomposisi penduduk Indonesia didominasi oleh Generasi Z yaitu generasi yang lahir antara tahun 1997-2012 yaitu sebanyak 27,94%. Saat ini sebagian besar Gen Z berada pada usia sekolah. Ini berarti para guru akan dihadapkan pada karakter Gen Z yang terdampak era disrupsi teknologi digital. Guru dan murid tentu harus adaptif terhadap perkembangan teknologi agar murid tidak menjadi generasi yang terbelakang dan terasing di zamannya. Di zaman digital ini, hampir semua perangkat terhubung internet, maka media dan metode pembelajaran harus di-engineer sedemikian rupa agar sinkron dengan keadaan saat ini. Guru dituntut terus mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal. Lantas apa yang harus terus dipertahankan dan menjadi prinsip sehingga tidak mengganggu martabat manusia yang beradab? Ya…adab. Adablah yang harus terus ada dan dipertahankan pada manusia. Perubahan karakter pada murid-murid saat ini erat kaitannya dengan berkurang atau hilangnya adab pada diri mereka. Mari kita cermati ungkapan dalam Bahasa Jawa berikut “Mnterno wong bener, iku luwe gempang, tinimbang mbenerno wong pinter”, yang artinya mendidik supaya pintar untuk orang yang sudah benar itu lebih mudah dibandingkan mendidik supaya benar untuk orang yang sudah pintar. Coba kita renungkan lagi, target pendidikan itu mencetak murid menjadi orang yang benar atau menjadi orang yang pintar. Orang yang benar (beradab) berpotensi rendah hati, tetapi orang yang pintar (berilmu) berpotensi tinggi hati. Jika pintarnya ilmu didasari benarnya adab maka terpelihara dari godaan penyalahgunaan ilmu itu sendiri. Mari kita renungkan QS. Al A’rof ayat 26, bahwasanya Allah telah menurunkan dari langit pakaian untuk menutupi sesuatu yang tampak buruk pada manusia dan sebagai perhiasan yang melekat. Pakaian yang diturunkan dari langit untuk manusia itu berwujud rasa malu. Jadi rasa malu adalah sifat bawaan semenjak lahir. Punya rasa malu merupakan sikap adab paling mendasar untuk menjadi orang yang benar. Perubahan pada adab paling mendasar inilah yang nyata terlihat dan terasa pada erateknologi digital saat ini. Media sosial menjadi salah satu faktor penyebab perubahan adabtersebut. Lewat konten-konten yang dibagikan melalui media sosial, karakter orang menjadiberubah salah satunya adalah berkurangnya rasa malu bahkan tidak tahu malu. Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi Bab tentang “Malu dan Kemuliaannya Serta Anjuran Untuk Selalu Melaksanakannya” disebutkan beberapa keterangan diantaranya : “Dari Imran bin Hushain ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sifat malu itu akan mendatangkan kebaikan”. (HR. Bukhari dan Muslim). Karena sifat malunya manusia akan cenderung melakukan kebaikan. Oleh karena itu, rasa malu dapat menjadi pengendali manusia dari perbuatan buruk dan tercela. Bahkan rasa malu bisa refleksada pada orang yang senantiasa memeliharanya manakala ada kecenderungan untuk berbuattidak baik. Rasa malu para murid yang tergerus oleh media informasi digital ini menjadi masalah yang harus mendapat perhatian serius dari para guru. Penguatan pendidikan rasa malu merupakan sebuah proses dalam perubahan, pembentukan serta pengembangan potensi yang ada dalam diri individu dengan tujuan melindungi mereka dari melakukan suatu hal yang kurang baik. (Ira Solihah;Ikin Asikin, 2021).Menurut Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulumiddin, jilid 1, di antara tugas pembimbing yang menjadi guru diantara 8 (delapan) tugasnya adalah mencegah murid dari akhlak yang buruk. Sementara tugas pertama dari murid adalah mendahulukan kesucian jiwa dari akhlak yang hina dan sifat-sifat yang tercela. Lantas apa yang harus segera dilakukan? Sebaik-baik nasihat adalah dengan mencontohkannya. Akan sangat efektif jika guru memberi contoh dengan perbuatan daripada hanya memberikan nasihat secara lisan. Aksi nyata guru dalam memberikan contoh baik akan menjadi teladan buat murid-murid sekaligus menumbuhkan rasa malu jika mereka melakukan keburukan dan perbuatan tercela. Ketika seorang murid mau melakukan perbuatan buruk setidaknya mereka berpikir dulu “ guru saya tidak pernah mencontohkan ini” atau “saya akan malu jika guruku sampai tahu saya melakukan perbuatan buruk ini.”Contoh sederhana yang bisa dilakukan guru adalah memberi salam terlebih dahulu kepada murid apabila berpapasan. Guru selalu tersenyum dan menyapa murid dengan memanggil namanya dan menanyakan kabarnya. Datang ke kelas sebelum bel mulai pelajaran karena ingin menyambut kehadiran murid-muridnya. Berbicara dengan murid dengan bahasa yang lemah lembut. Menyampaikan terima

Penerbit Buku yang Lolos Penilaian Puskurbuk 2023!

Liniswara, sebagai penerbit buku SMK, menorehkan prestasi gemilang dalam Penilaian Pusat Kurikulum dan Buku (Puskurbuk) Kemendikbudristek 2023. Kiprahnya tidak hanya diakui, tetapi juga ke depan memberikan dampak positif yang signifikan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pada tahun tersebut, Liniswara berhasil meraih predikat luar biasa dengan jumlah naskah lolos terbanyak, mencapai 30 judul di Penilaian Puskurbuk Kemendikbudristek 2023. Keberhasilan ini menempatkan Liniswara sebagai salah satu penerbit terkemuka yang konsisten menghasilkan karya-karya berkualitas untuk mendukung kurikulum SMK. Salah satu hal yang menarik dari prestasi Liniswara adalah visi ke depannya. Mereka berencana untuk menjadikan 30 judul naskah yang lolos dalam Penilaian Puskurbuk Kemendikbudristek 2023 sebagai buku Harga Ecer Tertinggi (HET) yang lebih terjangkau. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa buku-buku berkualitas tetap dapat diakses oleh semua pihak tanpa mengorbankan standar kualitas. Proses seleksi yang ketat dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memastikan bahwa kualitas setiap judul yang diterbitkan oleh Liniswara memenuhi standar yang ditetapkan. Dengan demikian, penurunan harga melalui status HET menjadikan buku lebih terjangkau bagi sekolah-sekolah dan siswa-siswi di seluruh Indonesia. Dari 30 judul naskah yang lolos, beragam mata pelajaran dan jurusan di SMK diwakili. Mulai dari Desain dan Produksi Busana, Agribisnis Ternak Ruminansia, hingga Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Liniswara telah menunjukkan keberagaman dan keunggulan dalam menyediakan bahan bacaan yang relevan dan bermanfaat bagi pelajar. Prestasi Liniswara bukan hanya sekadar pencapaian dalam industri penerbitan, tetapi juga merupakan kontribusi nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Melalui dedikasi dan inovasi mereka, Liniswara telah membuktikan bahwa kualitas dan aksesibilitas dapat berjalan seiring, membawa manfaat bagi seluruh komunitas pendidikan.

SURAT KEPUTUSAN PENETAPAN HARGA ECERAN TERTINGGI PRODUK LINISWARA

Bersama dengan Surat Keputusan Nomor 01/001/LS/II/2022, Manajemen PT Lini Suara Nusantara memutuskan hal-hal berikut terkait “Penetapan Harga Eceran Tertinggi Produk Liniswara dalam Penjualan oleh Agen Resmi Liniswara 2022”. Pertama: Agen Resmi Liniswara 2022 tidak diperkenankan untuk mengubah, baik menaikkan atau menurunkan, harga eceran tertinggi produk PT Lini Suara Nusantara. Kedua: Apabila Agen Resmi Liniswara 2022 diketahui melakukan perubahan harga eceran tertinggi, maka agen tersebut akan mendapatkan teruran dari Manajemen PT Lini Suara Nusantara. Ketiga, Apabila keputusan pada ketetapan kedua tidak ditanggapi dengan iktikad baik atau agen tetap melakukan perubahan harga, Manajemen PT Lini Suara Nusantara berhak memberikan sanksi administrasi yang akan diberitahukan di kemudian hari. Informasi lebih lengkap mengenai “Penetapan Harga Eceran Tertinggi Produk Liniswara dalam Penjualan oleh Agen Resmi Liniswara 2022” dapat dipelajari dengan saksama pada dokumen berikut. Semoga surat ini dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Atas perhatian dan kerja sama yang diberikan, kami ucapkan terima kasih.

Tersedia

© 2025 All Right Reserved
PT. Lini Suara Nusantara