Rujukan Keilmuan di Indonesia

Pembelajaran E-learning Berbasis TPACK Terintegrasi Etnosains: Strategi Pembelajaran Cerdas Berkarakter Berbasis Digital

Selama Pandemi COVID-19, guru dituntut mampu mengembangkan pengetahuan dan kompetensi siswa melalui pembelajaran daring dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi melalui platform digital e-learning. E-learning memungkinkan siswa untuk mengikuti proses belajar mengajar tanpa harus secara fisik mengikuti pembelajaran di kelas, melainkan melalui komputer di tempat masing-masing (Zufria, 2016). E-learning mampu mengatasi masalah, seperti keterlambatan atau bahkan tidak menyampaikan materi pembelajaran (Sukamto & Binar, 2012), serta memudahkan akses materi pelajaran dan berbagi informasi setiap saat (Belina & Batubara, 2013).

Akan tetapi, penggunaan fasilitas e-learning untuk pembelajaran jarak jauh di masa pandemi ternyata membuat siswa merasa bosan dan jenuh. Hal ini berdasarkan hasil survei UNICEF tentang pelaksanaan PJJ dan didapatkan data dari 4.000 responden siswa di 34 provinsi. Sebanyak 66% siswa merasa tidak nyaman belajar dari rumah dan 87% siswa ingin segera kembali ke sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pembelajaran jarak jauh yang digunakan belum berjalan secara optimal dikarenakan beberapa faktor yaitu proses pembelajaran yang belum mampu menarik minat atau rendahnya motivasi belajar siswa karena PJJ cenderung berpusat pada guru.

Kompetensi pedagogi pendidik dalam menyusun strategi pembelajaran yang bermakna sangat dibutuhkan untuk membentuk generasi cerdas berkarakter di masa pandemi. Strategi pembelajaran yang digunakan haruslah strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa seperti pendekatan TPACK. Pendekatan TPACK merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang mampu meningkatkan aktivitas siswa (Liang et al, 2013).

Pendekatan TPACK dapat dijadikan sebagai pembelajaran inovatif di masa pandemic. TPACK menjadi sebuah pendekatan pembelajaran yang menggabungkan aspek materi, pedagogik, dan teknologi secara terpadu untuk menciptakan pembelajaran berbasis TIK (Mairisiska, 2014). Pendekatan ini diharapkan dapat membuat siswa mampu membangun konsep yang abstrak menjadi lebih konkret sehingga siswa lebih memahami konsep secara mendalam dan mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal.

TPACK sebagai pendekatan pembelajaran akan berlangsung efektif dan kondusif apabila dikaitkan dengan materi yang kontekstual seperti etnosains (Hartini, et al,2018). Pembelajaran yang terintegrasi dengan etnosains dilandaskan pada pengakuan terhadap budaya sebagai bagian yang fundamental bagi pendidikan sebagai ekspresi dan komunikasi suatu gagasan dan perkembangan pengetahuan (Joseph, 2010).

Etnosains merupakan kegiatan mentransformasikan antara sains asli (terdiri atas seluruh pengetahuan tentang fakta masyarakat) yang berasal dari kepercayaan turun-temurun (Sudarmin, 2014). Integrasi pendekatan TPACK dengan etnosains pada proses pembelajaran dapat dilakukan melalui penambahan wawasan serta mengaitkan konsep dengan etnosains (Ardianti et al, 2019; Wilujeng, 2016). Pembelajaran e-learning berbasis TPACK terintegrasi etnosains diharapkan dapat diimplementasikan dan dijadikan sebagai strategi pembelajaran baru untuk menghasilkan lulusan cerdas berkarakter di masa Pandemi COVID-19.

Pelaksanaan pembelajaran e-learning berbasis TPACK terintegrasi etnosains terdiri atas beberapa kegiatan. Pada kegiatan pendahuluan, guru meminta siswa untuk mengisi link presensi yang terdapat pada Google Classroom dan dilanjutkan dengan pembelajaran secara virtual melalui Google Meet seperti pada Gambar 1. Selanjutnya, guru melaksanakan proses pembelajaran dengan sintakmatik pembelajaran TPACK.

Pada tahapan pertama, yakni orientasi siswa dalam masalah, dilakukan dengan menayangkan video atau pertanyaan etnosains terkait dinamika rotasi. Contoh hal ini dapat dilihat seperti posisi prajurit keraton mengangkat serangkaian gamelan (pada Gambar 2). Setelah siswa mengamati video atau mendengar pertanyaan yang diajukan oleh guru.

Selanjutnya memasuki tahapan kedua yakni mengorganisasikan siswa untuk belajar. Tahapan ini dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berargumentasi terkait video atau permasalahan yang telah diberikan oleh guru. Kemudian, guru mengarahkan siswa terkait konsep yang akan dipelajari pada pertemuan tersebut.

Tahapan ketiga yakni penggunaan data ilmiah. Penggunaan data ilmiah dilakukan dengan guru menjelaskan konsep atau informasi yang dilanjutkan dengan latihan soal yang terdapat pada e-book.

Tahapan keempat adalah menjelaskan data dan fenomena ilmiah. Hal ini dilakukan dengan memberikan beberapa soal dan mengajak siswa untuk menjawab soal tersebut dan memberikan reward bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Setelah pertanyaan untuk memberikan pemantapan konsep kepada siswa sudah cukup, maka dilanjutkan tahapan kelima yakni menarik kesimpulan melalui guru mengajak siswa mengulang kembali tentang konsep-konsep yang telah didapatkan selama proses pembelajaran.

Kelima tahap tersebut diakhiri dengan kegiatan penutup. Kegiatan penutup dilakukan dengan meminta siswa untuk membuat rangkuman materi atau konsep yang telah dipelajari. Selain itu, guru juga meminta siswa untuk mempelajari materi pada pertemuan selanjutnya yang terdapat dalam Google Classroom guna memperlancar aktivitas pembelajaran minggu depan.

Hasil implementasi pendekatan TPACK terintegrasi etnosains menciptakan pembelajaran aktif dan bermakna yang mampu mengajak siswa untuk mengaitkan antara kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan melalui materi pembelajaran yang kontekstual (Ardianti et al, 2017; Ngabekti et al, 2019; Afriana et al, 2016). Pendekatan TPACK terintegrasi etnosains yang menyajikan fenomena yang berada di lingkungan sekitar mampu melatih siswa untuk menghubungkan fenomena tersebut dengan konsep yang dimilikinya sehingga mampu melatih kemampuan berpikir siswa (Ismail et al, 2016; Bybee, 2010).

E-learning dengan pendekatan TPACK terintegrasi etnosains juga mampu mencetak generasi milenial yang berkarakter. Hal ini dikarenakan pendekatan TPACK mampu mengarahkan siswa dalam mengembangkan karakter ilmiah menggunakan tahapan-tahapan saintifik dalam memecahkan masalah.  Selain itu, pengintegrasian etnosains dalam pendekatan TPACK akan membuat siswa merasakan pengalaman kontekstual secara langsung yang menyebabkan karakter ilmiah siswa akan meningkat (Suastra et al, 2017; Yunus, 2013; Kurniawati et al, 2017; Suastra et al, 2011). Hal ini didukung pula oleh penelitian Atmojo (2012), Andriana et al (2017), Setiawan et al (2017), dan Khoiri (2016) bahwa pembelajaran yang menghubungkan dengan fenomena nyata di lapangan akan menciptakan pembelajaran bermakna yang berpusat pada siswa sehingga siswa akan tertarik dan fokus dalam mengikuti pembelajaran.

Pembelajaran blended learning berbasis TPACK dapat dijadikan sebagai strategi pembelajaran cerdas berkarakter berbasis digital bagi generasi milenial di masa Pandemi COVID-19. Integrasi blended learning berbasis TPACK menggabungkan keunggulan pembelajaran tatap muka dalam meningkatan karakter siswa dan pembelajaran online dalam meningkatkan pemahaman siswa dengan menggunakan pendekatan TPACK.

TPACK sendiri memiliki beberapa tahapan. Beberapa tahapan tersebut adalah 1) orientasi siswa, 2) mengorganisasikan siswa untuk belajar, 3) menggunakan data ilmiah, 4) menjelaskan data dan fenomena ilmiah, serta 5) menarik kesimpulan. Strategi pembelajaran ini sudah seharusnya diimplementasikan dengan maksimal dan diperkuat melalui pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

Penulis: Zakaria Sandy Pamungkas, M.Pd. (SMA Islam Diponegoro Surakarta)
Editor: Chania Widyasari, S.Pd.

DAFTAR PUSTAKA

Afriana, J., A. Permanasari, and A. Fitriani. 2016. “Project Based Learning Integrated to STEM to Enhance Elementary School’s Students Scientific Literacy.” Jurnal Pendidikan IPA Indonesia 5 (2): 261–67.

Ardianti, S. D., Wanabuliandari, S., Saptono, S., & Alimah, S. 2019. A needs assessment of edutainment module with ethnoscience approach oriented to the love of the country. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 8(2): 153-161.

Atmojo, S. E. 2012. Profil Keterampilan Proses Sains dan Apresiasi Siswa terhadap Profesi Pengrajin Tempe dalam Pembelajaran IPA Berpendekatan Etnosains. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 1(2):155-122.

Belina, E, & Batubara, F, R. 2013. Perancangan dan Implementasi Aplikasi E-Learning Versi Mobile Berbasis Android. Singuda Ensikom, 4(3) : 76-81.

Bybee, Rodger W. 2010. “Advancing STEM Education: A 2020 Vision.” Technology & Engineering Teacher, 70 (1): 30–35.

Hartini, S, Firdausi, S, Misbah, SUlaeman, N.F. (2018). “The Development Of Physics Teaching Materials Based On Local Wisdom To Train Saraba Kawa Characters”. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 7(2), 130-137.

Ismail, I., A. Permanasari, and W. Setiawan. 2016. “STEM Virtual Lab: An Alternative Practical Media to Enhance Student’s Scientific Literacy.” Jurnal Pendidikan IPA Indonesia 5 (2): 239–46.

Joseph, M.R. 2010. Ethnoscience and Problems of Method in the Social Scientific Study of Religion. Oxfordjournals. 39(3): 241-249.

Khoiri, A. 2016. Local Wisdom PAUD to Grow Student’s Soft Skills (Study Cash: Development RKH On Science Learning). Indonesian Journal of Early Childhood Education Studies, 5(1): 14-17.

Kurniawati, A., Wahyuni, S., & P, P. D. A. 2017. “Utilizing of Comic and Jember’s Local Wisdom as Integrated Science Learning Materials”. International Journal of Social Science and Humanity, 7(1), 47–50

Liang, J. C., Chai, C., Koh, J., Yang, C. J., & Tsai, C. C. 2013. Surveying In-Service Preschool Teachers’ Technological Pedagogical Content Knowledge. Australasian Journal of  Educational Technology, 29(4): 581-594.

Mairisiska, T., Sutrisno, Asrial. 2014. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis TPACK pada Materi Sifat Koligatif. Jurnal Edusains,Vol.3(1): 28-37.

Ngabekti, S., A. P.B. Prasetyo, R. D. Hardianti, and J. Teampanpong. 2019. “The Development of STEM Mobile Learning Package Ecosystem.” Jurnal Pendidikan IPA Indonesia 8 (1): 81–88.

Setiawan, B., Innatesari, D. K., Sabtiawan, W. B., & Sudarmin, S. 2017. The Development of  Local Wisdom-Based Natural Science Module to Improve Science Literation of Students. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 6(1): 49-54.

Suastra, I Wayan, and Ketut Tika. 2011. “Efektivitas Model Pembelajaran Sains Berbasis Budaya Lokal Untuk Mengembangkan Kompetensi Dasar Sains Dan Nilai Kearifan Lokal Di SMP.” Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan 5 (3): 258–73.

Suastra, I. W., Jatmiko, B., Ristiati, N. P., & Yasmini, L. P. B. 2017. Developing characters based on local wisdom of Bali in teaching physics in senior high school. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 6(2): 306-312.

Sudarmin. 2014. Pendidikan Karakter, Etnosains dan Kearifan Lokal. Semarang: CV Swadaya Manunggal.

Sukamto, Binar, C, A. 2012. E-learning Jaringan Komputer Berbasis Web dan Aplikasi Mobile. Journal Teknik Elektro, 1(2) :75-85.

Wilujeng, Insih. 2016. “Pengintegrasian Potensi Lokal dalam Pembelajaran IPA Alternatif Peningkatan Daya Saing Global”. Prosiding Seminar Nasional IPA VII (pp. 680-688). Semarang: Fakultas MIPA Universitas Negeri Semarang.

Yunus, R. 2013. Transformasi Nilai-Nilai Budaya Lokal Sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa. Jurnal Penelitian Pendidikan, 13(1): 67-79.

Zufria, Ilka. 2016. Pemanfaatan Media Digital (E-Learning) dalam Memaksimalkan Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi. Nizhamiyah, VI(1) : 76-103.

Chania Widyasari

Seorang staf digital marketing, penyuka buku, dan content creator di Instagram @chaniawidya. Hubungi saya lebih lanjut melalui e-mail chaniawidyasari@gmail.com atau DM Instagram.

You also like

Penggunaan Google Classroom dalam Kegiatan Pembelajaran Kala Pandemi COVID-19

oogle Classroom bertujuan menyederhanakan pembuatan, pendistribusian, dan penetapan tugas dengan cara tanpa kertas. Dengan menggunakan Google Classroom, guru bisa membuat kelas maya, mengajak siswa gabung dalam kelas, memberikan informasi terkait proses KBM, memberikan materi ajar yang bisa dipelajari siswa (baik berupa file paparan maupun video pembelajaran), memberikan tugas kepada siswa, membuat jadwal pengumpulan tugas dan lain-lain (Rosidah, 2020).

Belajar Menjahit Online untuk Siswa Tata Busana Saat Pandemi Covid-19

Dunia pendidikan SMK Tata Busana membuat gebrakan baru. Gebrakan ini dilakukan dengan melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Hal ini disebabkan karena pembelajaran yang pada mulanya dilakukan secara luring harus menjadi daring sebagai dampak dari Pandemi COVID-19. Menjahit secara online merupakan tantangan baik bagi guru maupun siswa.

BALIBO (Belajar Asyik Dengan Live Board): Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SMA di Kala Daring

Aplikasi Live Board merupakan aplikasi papan tulis virtual. Selama menggunakan aplikasi tersebut, pengguna dapat merekam suara dan bisa menambahkan gambar serta tulisan sesuai materi pembelajaran. Media ini memiliki konten komunikatif sehingga guru bisa menjelaskan materi pelajaran sebagai upaya pembimbingan menerapkan media ini dalam pembelajarannya, karena lebih praktis dan efektif dalam pelaksanaannya.

Hybrid Learning, Benarkah Sebuah Solusi?

Di tengah kekalutan ini, muncul istilah hybrid learning atau blended learning. Hybrid learning merupakan metode belajar yang mengombinasikan sistem tatap muka dengan sistem tatap maya dalam waktu bersamaan. Beberapa sekolah telah menerapkan hybrid learning tersebut. Pertanyaannya adalah, “Apakah hybrid learning benar merupakan solusi yang tepat untuk digunakan dalam jangka panjang?”

Video-Blogging: Belajar Asyik di Tengah Pandemi Covid-19

Video-Blogging (disingkat "vlog" atau vlogging atau vidblogging) merupakan suatu bentuk kegiatan blogging dengan menggunakan media video. Penggunaan teks atau audio sebagai sumber media perangkat seperti ponsel berkamera, kamera digital yang bisa merekam video, atau kamera yang dilengkapi dengan mikrofon merupakan modal yang mudah untuk melakukan aktivitas video blogging.

Papan Bimbingan Online sebagai Media Bimbingan Konseling Daring

Pada masa pandemi, interaksi guru dan siswa dilakukan secara dalam jaringan (daring). Guru  BK mulai merasa kesusahan karena guru BK berbeda dengan guru mata pelajaran yang berorientasi pada aspek kognitif dan nilai. Guru BK berorientasi pada aspek afeksi dan karakter siswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

×

Shopping Cart

No products in the cart.

Return to shop

Liniswara Online Store

Selamat datang di Liniswara, apa yang dapat kami bantu?

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu